DIKIRA KORONA: Petugas KPU yang melakukan verifikasi faktual calon perseorangan mendatangi rumah warga.

Ketika Petugas Verfak KPU Datangi Rumah Warga dengan Pakaian APD

Pandemi Covid-19 masih mewabah di Kabupaten Karawang. Ditengah kembali melonjaknya kasus positif baru, petugas verifikasi faktual (Verfak) Panitia Pemungutan Suara (PPS) di seluruh kecamatan, memakai Alat Pelindung Diri (APD) dan datangi rumah-rumah warga.

WAHYUDI Karawang 

Masyarakat di Kecamatan Lemahabang panik. Ketika petugas verfak dari PPS berseragam APD lengkap mendatangi rumah salah satu warga di Desa Pulojaya. Warga mengira, rumah yang didatangi petugas verfak itu adalah warga yang terpapar Covid-19.

Padahal, kedatangan petugas verfak berseragam orange itu, hanya untuk berbincang-bincang dengan masyarakat. Untuk melakukan verifikasi faktual tentang dukungan kepada calon independent.

Bahkan, Panwascam Lemahabang, Kisin Sanjaya mengatakan, akibat ketidaktahuannya, masyarakat menjadi takut saat di datangi tim verfak berseragam APD itu. Karena warga menganggap, mereka yang di kunjungi tim verfak adalah warga positif Covid-19.

“Makanya kami awasi terus, soalnya banyak kabar hoax. Banyak yang mengira petugas medis, padahal itu tim verfak,” ujar Kisin, Selasa, (30/6).

Hal serupa juga terjadi di Kecamatan Cilamaya Wetan. Petugas verfak yang bergerak dengan APD lengkap, dengan tujuan melindungi diri dari bahaya Covid-19. Malah dituduh bakal melakukan penjemputan pada pasien positif Covid-19.

Salah satu anggota PPS Desa Muara, Kecamatan Cilamaya Wetan, Istikomah mengatakan, awalnya pemeriksaan data dan verifikasi berjalan baik-baik saja. Sampai ada emak-emak di salah satu dusun yang bikin heboh. Dengan menyebut adanya warga desa yang dijemput tim medis.

“Awalnya sih baik-baik saja. Tapi sempat ada emak-emak yang bikin gaduh. Bilangnya kita petugas medis,” ungkapnya.

Tak jauh beda yang terjadi di Desa Pasirjaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, tokoh masyarakat disana, Bramantio mengungkapkan, awalnya warga juga sempat geger. Lantaran ada sekelompok orang datangi rumah warga menggunakan APD lengkap.

Pasalnya, sebelum kejadian itu, sudah dua kali Desa Pasirjaya digegerkan issu Covid-19. Padahal, sampai saat ini, belum ada satu pun warga yang dinyatakan positif Covid-19.

“Ya awalnya sempat geger, tapi begitu tim selesai melakukan verifikasi dan melepas APD nya, warga jadi mengerti lagi,” ujarnya.

“Kita khawatir aja. Sekarang kan zaman medsos. Semua berita serba cepat viral. Kalau tidak buru-buru klarifikasi. Khawatir seperti dua kejadian sebelumnya yang ramai di desa kami,” tandasnya.

Wawan, Tokoh Masyarakat di Desa Jayanegara, Kecamatan Tempuran menambahkan, sebaiknya, sebelum mendatangi rumah warga dilakukan sosialisasi dulu secara merata. Sehingga, hal-hal yang tidak diinginkan yang berpotensi membuat kegaduhan, terjadi di masa pandemi ini.

“Sebenarnya sudah ada sosialisasi. Tapi mungkin tidak merata. Tidak menyentuh pada semua lapisan masyarakat. Sebaiknya, ini jadi bahan evaluasi,” tandasnya. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here