Melepaskan Gara (1/BERSAMBUNG)

0
ILUSTRASI (Sumber:lakonhidup)

CERPEN,  EDI A.H. IYUBENU

PUTIH, gemuk, dan lembek, seperti gajih. Namanya belatung. Kelak, ia akan menyembul dari lubang telingamu dan menggerogoti kenangan-kenangan di dalam kepalamu. Tanpa sisa! Semua kenangan di dalam kepalamu lalu sempurna hilang. Bahkan termasuk nama anakmu, Gara. Lengkapnya, Kynan Garawiksa.

“Kenapa aku kok mesti mondok, Yah?” tanyanya di suatu malam seusai menyantap mi goreng kesukaannya yang rutin kubuatkan.

Sekenanya saja aku menjawab—kepada anak berusia dua belas setengah tahun, tak bijak bila kuderakan jawaban panjang bahwa kau harus memiliki ilmu pengetahuan yang dalam dan luas agar nalarmu bisa selalu kritis dan pula kau mesti mengasah hatimu dengan laku-laku riyadhah agar hatimu jernih supaya kelak kau tak menjadi cebong atau kampret yang sama-sama bebal, tengik, bacin, dan bau comboren mampat akhlaknya—“Supaya kelak jika sudah beristri dan beranak-cucu, kamu bisa mengajarkan ilmu-ilmu agama dengan baik dan bijak.”

Gara bertanya lagi, “Di pondok ada Indormart-nya nggak, Yah?”

“Oh, ada, ada,” jawabku cepat. Ini pertanyaan enteng, sangat enteng, maka jawabannya pun enteng, sangat enteng. Toh, jikapun ternyata tak ada, tak sulit bagiku untuk mengadakannya. Kau ini, Nak, kayak lagi berurusan sama siapa to?

Sebuah tangisan pecah dari mulut seorang lelaki sebaya Gara. Ada dua larik pekikan yang mengiris wajah langit, juga hatiku. Semua mata seketika menyergap tubuhnya yang berguncang. Sedihnya ia ditinggal orang tuanya, gumamku, hatinya pasti sangat tersayat. Anak baru umur 12-13 tahun, betapa masih kecilnya. Seno Gumira Ajidarma barangkali belum pernah menyaksikan jerit pilu seorang anak sekecil itu yang menangis karena harus tinggal di pesantren dan berpisah dengan orang tuanya. Juga dunia kanaknya. “Tiada yang lebih sedih dari hati seorang perempuan yang menangis karena cinta,” kata Seno. Ah, ada-ada saja Seno ini. Semoga Gara selalu baik-baik saja, tak menangis seperti anak itu, doaku dalam hati.

Gara sekilas tersenyum kecil kepada anak yang menangis itu dengan ekspresi wajah yang sangat kuhafal. Tiap lekuk wajah dan tubuhnya, aku hafal. Kau tanya apa saja tentang Gara, spontan aku akan sangat bisa menceritakannya. Sebab, Gara anakku dan aku ayahnya….

Orang-orang yang berkerumun di emper Masjid Pandanaran ini, dengan memojok atau melingkar bersama anak masing-masing, pelan demi pelan mulai beranjak seiring kumandang azan Asar. Waktu mengingsut—pelan memang, lebih pelan dari langkah bekicot, tapi dengan pasti selalu maju, tak pernah berhenti. Sebagian besar pergi dan tak pernah kulihat lagi. Sebagian lain ikut salat, juga aku dan Gara.

Usai salat, usai Gara mencium punggung tanganku, aku berbisik padanya, “Le, kerasan ya di sini….”

Ia mengangguk, dengan sedikit tersenyum—senyuman yang kuhafal dengan hafalan yang lebih kukuh menghunjam daripada hunjaman hafalan Al Mulk.

Di emperan, istri dan dua anakku, serta Budhe Iis dan putrinya, Bella, telah menunggu. Gara ditawari pengin jajanan apa oleh mama dan budhenya. Ia bilang sate ayam. Di sisi selatan masjid, sejarak sepuluh langkah, ada pedagang sate ayam pakai sepeda motor yang sedang mangkal. Aku pun beranjak membelinya buat Gara.

Begitu kembali bersama sebungkus sate ayam, sekitar sepuluh menit berselang, kulihat mamanya sedang memeluk Gara. Sangat erat. Erat sekali: helai-helai angin pun takkan sanggup menyapih jarak keduanya.

“Sudah, sudah, Mah, nanti berat sendiri kalau mau pamit,” ujarku. Mereka saling berlepas pelukan, lalu Gara menerima bungkusan sate dariku, dan menyantapnya dengan lahap.

Rabu, 19 Juni 2019. Jika kau bersua denganku sepuluh tahun lagi, itu pun bila aku berumur panjang dan kau pun begitu, tanyakanlah padaku apa yang kukatakan dan kurasakan pada pukul 16.00 itu.

“Bagaimana perasaan Bapak ketika melepaskan Gara saat itu….?”

Sepuluh tahun lagi, pertanyaanmu itu masih akan sangat perkasa membuatku terdiam beberapa jenak, memaksa mataku terlontar ke ketinggian langit malam yang jelaga, lalu ingatanku melesat jauh, sangat jauh, ke setangkup wajah kecil yang amat kusayangi, yang tak lagi ada di depanku. Sebab, Gara anakku dan aku ayahnya, maka ia adalah selalu seorang anak berwajah kecil yang gemar merekahkan senyum dengan gigi putih berbaris di depanku. Baju kokonya hitam. Pecinya hitam. Sarungnya agak menggembung di bagian perut karena cara ia menggulungnya dibuntal-buntal begitu saja sekenanya, asal nyantol.

“Ayah mau ke mana? Aku ikut….” Gara selalu mengucapkan kalimat itu setiap aku akan pergi dari rumah, sejak ia berumur tiga atau empat tahunan. Siang atau malam. Hujan atau terang.

“Ayah mau ketemu teman, Le.” (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here