Seri Belajar Pancasila

0
56

Oleh DR. MAHNAN MARBAWI M.A

SALAM untuk semua saudara sebangsa setanah air. Semua masyarakat Indonesia mengenal Pancasila. Namun tidak semua paham dengan nilai yang terkandung di dalamnya. Beriktu ini catatan kecil untuk membantu memahami nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai ideologi bangsa.
Terkait tafsir Pancasila sebagai falsafah negara, Pancasila merupakan Bonum Honestum yaitu nilai yang patut dikejar dan dihormati karena dirinya sendiri. Pancasila bukan sekadar sebuah nilai Bonum Utile yaitu nilai kegunaan atau nilai Bonum Delectable yaitu nilai yang menyenangkan keinginan dan dapat dinikmati. Sebagai Bonum Honestum Pancasila bersifat total dan bernilai moral. Ini artinya makna dari semua sila-sila dari Pancasila memiliki makna dan penafsiran yang luhur dan dikembangkan sebagai sumber perilaku altruistic dalam pengembangan kepribadian masyarakat Indonesia. Perilaku altruistic hanya muncul dari proses pembiasaan melalui proses pembelajaran budaya atau pewarisan budaya.
Sehingga moral Pancasila adalah faktor yang mengharuskan seseorang bertingkahlaku sesuai nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai pemegang kekuasaan maupun sebagai rakyat biasa. Nilai guna atau Bonum Utile menunjukkan bahwa makna dari sila-sila Pancasila dapat digunakan sebagai sandaran dalam berperilaku, dan bersikap masyarakat Indonesia. Nilai Bonum Delectable menunjukkan bahwa sila-sila Pancasila bersifat ideal dan menjadi tujuan yang harus dicapai sebagai sebuah keinginan bersama.
Nilai Pancasila sama sekali tidak bertentangan atau kompatibel dengan nilai-nilai agama manapun bahkan juga dengan nalai-nilai kearifan lokal. Namun demikian Pancasila tidak bisa menjadi substitutional atau pengganti dari agama. Karena berbeda dari sisi sumber utamanya. Pancasila merupakan bersumber dari nilai-nilai yang terkandung dalam kearifan lokal Bangsa Indonesia, sementara agama berasal dari wahyu. Walaupun sumbernya berbeda, nilai-nilai yang ada dalam Pancasila relevan dengan nilai-nilai universal yang terdapat dalam setiap agama. Yudi Latief mengatakan, Pancasila adalah pendulum alat ukur untuk implementasi dari nilai-nilai agama.
Pada posisi ini Pancasila tidak dipertentangkan dengan ajaran agama. Justru Pancasila menjadi tolok ukur dari implementasi perilaku beragama seseorang. Bisa disebutkan bahwa jika seseorang mengamalkan Pancasila, maka yang bersangkutan juga mengamalkan ajaran agamanya. Dalam setiap sila Pancasila memiliki nilai-nilai universal dan general yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan, Bonum Honestum. Nilai-nilai Pancasila tersebut juga bersifat futuristik yaitu mampu digunakan dan diinterpretasikan secara kontestual atau Bonum Utile dan Bonum Delectable yaitu nilai Pancasila sesuai untuk semua zaman. Nilai Bonum Utile dan Bonum Delectable yang kontekstual inilah yang menjadikan Pancasila bersifat terbuka. Nilai-nilai ini juga yang menjadikan Pancasila memiliki watak keabadian Pancasila.
Nah untuk sementara sampai disini dulu. Mari kita diskusikan. Kita lanjut pekan depan. Salam. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here