Pedagang Keluhkan Omzet Penjualan
KARAWANG– Buruknya penjualan daging tahun ini berpengaruh terhadap harga jual di daging di Pasar Cikampek. Buktinya dengan minimnya penjualan membuat para pedagang daging terpaksa menurunkan harga jualnya menjadi lebih murah. Didi Saepudin (29) salah satu pedagang daging sapi di pasar cikampek mengatakan bahwa demi kelancaran penjualan daging yang dipasarkannya, dirinya rela menanggung rugi agar usaha yang sudah digelutinnya selama 3 tahun itiu bisa berjalan dengan baik dan lancar. “Daripada tidak laku sama sekali mending jual murah aja,” katanya. Dia menjelaskan harga daging sapi sebelumnya hampir mencapai 130 ribu perkilo gram sebelum bulan suci ramadhan tiba. Namun dengan berjalannya waktu penjualan daging tahun ini menurutnya lebih murah dibandingkan tahun sebelumnya. Maka tak heran kata dia, jika masyarakat banyak yang lebih memilih daging ayam dibandingan daging sapi. “Kemarin baru turun 10 ribu, dari 130 ribu perkilonya, sekarang udah Rp jadi 120 ribu perkilonya, tiap hari turun,” jelasnya. Selain itu, kata dia, penurunan harga daging tersebut juga bukan hanya karena rendahnya penjualan daging yang terjadi pada tahun ini saja. Melainkan sudah sering terjadi ketika menjelang lebaran tiba. Berbeda dengan menjelang bulan puasa berbagai harga kebutuhan bisa lebih meningkat dibandingkan sebelumnya. “Kita juga ngga sembarangan turunin harga pasar, lihat dulu kondisinya kalau dipasaran penjualan daging masih tinggi mungkin harganya akan terus bertahan, kalau penjualannya rendah ya terpaksa kita juga turunkan,” ucapnya. Berbeda dengan kondisi penjualan daging ayam di lokasi pasar cikampek, Ijah misalnya salah satu pedagang ayam ini mengaku lebih banyak di kunjungi oleh pelanggan setianya. Meskipun harga ayam sudah mencapai 42 ribu perkilonya. Namun itu tidak mempengaruhi penjualannya. ” Mentok-mentok harganya paling jatuh 40 ribu perkilonya,” tuturnya. Sementara salah satu konsumen pasar cikampek Oom (35) mengaku lebih memilih daging ayam jika dibandingkan dengan daging lainnya yang nilai harga jualnya sudah melambung tinggi. Baginya mencari harga yang lebih murah adalah kebiasaan ibu ibu dalam berbelanja. “Buat apa nyari yang mahal, pasti yang lebih murah lah,” akunya. (oib/red)