KARAWANG, KBEonline.id – Bagi Asep Hadiyat, menjaga keselamatan perjalanan kereta api adalah tugas yang tidak bisa dianggap remeh. Sejak tahun 2014, ia menjalani profesinya sebagai petugas penjaga perlintasan dengan penuh dedikasi.
Tugasnya mengamankan perjalanan kereta agar tetap lancar dan aman bagi pengguna jalan serta penumpang. Meski penugasannya sering berpindah-pindah, ia tetap menjalani pekerjaannya dengan tanggung jawab penuh.
“Suka dukanya ya nggak bisa libur. Kalau libur pun tergantung penugasan,” ujarnya.
Baca Juga:Sidang Isbat Lebaran Idul Fitri 2025 Penetapan 1 Syawal 1446 H beserta Link Live StreamingnyaJalan di Jalur Arteri Lingkar Tanjungpura Lambat Perbaikan, Bupati Karawang: Pemda Ambil Alih
Asep bekerja selama delapan jam setiap harinya, dimulai dari pukul dua siang hingga sepuluh malam. Tidak ada kelonggaran, bahkan saat bulan puasa sekalipun.
“Nggak boleh ngantuk sama sekali, 8 jam full,” katanya.
Pekerjaan ini menuntutnya untuk tetap waspada sepanjang waktu. Jika ada kendala seperti palang pintu yang tidak tertutup, petugas seperti Asep yang akan disalahkan. Oleh karena itu, menjaga kesehatan dan cukup istirahat adalah kunci agar tetap fokus selama bertugas.
Dalam sehari, Asep dan tiga rekannya bertugas secara bergantian. Tiga orang bekerja, sementara satu orang libur. Pola liburnya pun tidak tetap seperti karyawan kantoran pada umumnya.
“Seminggu kerja dua hari libur, tapi nggak mesti Sabtu-Minggu, tergantung kedinasan,” jelasnya.
Sebelumnya, ia pernah bertugas di perlintasan Kemayoran, Jakarta Pusat, sebelum akhirnya ditugaskan di Karawang.
Di perlintasan ini, frekuensi perjalanan kereta cukup padat, dengan sekitar 50 perjalanan kereta setiap hari. Saat musim mudik, jumlahnya meningkat hingga 60 perjalanan dalam sehari.
Meski penuh tantangan, Asep tetap menjalani pekerjaannya dengan ikhlas. Ia mengaku awalnya bersekolah di bidang otomotif di Karawang, namun takdir membawanya ke profesi ini.
“Rezekinya di sini,” katanya.
Baca Juga:Bupati Aep bersama Forkopimda dan Sejumlah Kepala OPD Monitoring Posko Mudik Lebaran 2025 di Jalur ArteriSolo Leveling Season 2 Berakhir, Apakah Lanjut Musim Ketiga?
Meskipun ada keinginan untuk mencoba hal lain, ia sadar bahwa setiap orang memiliki tugas dan kewajiban masing-masing. “Kalau kepingin ada, tapi punya tanggung jawab,” tambahnya.
Soal gaji, Asep mengatakan penghasilannya sesuai dengan UMR Karawang, ditambah tunjangan. Tidak besar, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Ia tinggal di Cikampek bersama istri dan dua anaknya. Beruntung, keluarganya masih berada dalam satu kampung, sehingga tidak ada tradisi mudik yang harus dilakukan saat Lebaran tiba.