KBEonline.id – Rasa sakit dapat dirasakan di hampir seluruh bagian tubuh manusia akibat tekanan, luka, atau masalah kesehatan. Namun, menariknya, otak kita sendiri tidak dapat merasakan sakit.
Manusia memiliki reseptor nyeri yang dikenal sebagai nosiseptor, yang merupakan neuron sensorik yang tersebar di berbagai bagian tubuh seperti kulit, tulang, otot, sendi, dan organ dalam.
Menurut penelitian oleh Alexis Bavencoffee dan rekan-rekan dalam Vitamins & Hormones (2014), nosiseptor bekerja dengan merespons cedera jaringan atau rangsangan berbahaya dengan mengirimkan sinyal saraf ke sumsum tulang belakang dan otak untuk memicu sensasi nyeri.
Baca Juga:Sangat Unik! Ternyata Lumba-lumba Memiliki Nama untuk Dipanggil oleh Lumba-lumba LainApakah Benar Badan Keringetan Langsung Mandi Bisa Panuan? Inilah Penjelasannya
Meskipun otak memiliki sekitar 100 miliar neuron yang dapat mengirimkan informasi dengan kecepatan mencapai 400 kilometer per jam, ia tidak merasakan sakit. Dengan kata lain, semua bagian tubuh dapat merasakan nyeri karena otak yang memproses sinyal tersebut, tetapi otak itu sendiri tidak memiliki nosiseptor.
Tanpa adanya nosiseptor, otak tidak dapat merasakan nyeri. Ini terbukti dalam prosedur bedah saraf di mana stimulasi pada jaringan otak pasien yang terjaga tidak menimbulkan rasa sakit. Oleh karena itu, semua sakit kepala yang pernah kita alami bukanlah akibat dari rasa sakit pada otak.
Ketika kita mengalami sakit kepala, sebenarnya rasa sakit tersebut berasal dari meninges (lapisan pelindung otak), jaringan saraf, pembuluh darah, dan otot leher. Nosiseptor akan mengirimkan sinyal ke sel-sel saraf di otak untuk memberi tahu bahwa ada bagian tubuh yang merasa sakit. Sakit kepala disebabkan oleh ketidaknyamanan pada struktur di sekitar otak.
Contohnya termasuk meningen atau selubung otak, pembuluh darah, serta jaringan saraf. Sakit kepala juga bisa muncul dari reseptor di beberapa area wajah seperti mulut dan tenggorokan.
Sakit kepala sebelah atau migrain, meskipun penyebabnya belum sepenuhnya dipahami, dianggap terjadi akibat aktivitas abnormal di dalam otak. Aktivitas ini memengaruhi sinyal saraf, bahan kimia, dan pembuluh darah di otak sehingga menyebabkan rasa sakit di sebagian kepala.
(Vionisya Citra)