KBEONLINE.ID – Di Indonesia fenomena iPhone kini sudah melampaui fungsi dasarnya sebagai alat komunikasi. Bagi sebagian masyarakat, khususnya di kelas menengah ke bawah, iPhone bukan lagi sekadar ponsel, melainkan simbol status sosial dan penanda “kelas” di ruang pergaulan.
Tak sedikit orang dengan penghasilan setara UMR rela menabung lama, bahkan mencicil bertahun-tahun, demi memiliki iPhone. Alasannya beragam, namun benang merahnya satu: gengsi dan tekanan sosial. Di lingkungan pertemanan maupun dunia kerja, iPhone kerap dianggap sebagai representasi sukses, mapan, dan modern.
Media sosial turut memperkuat persepsi tersebut. Konten pamer gaya hidup, foto mirror selfie dengan iPhone, hingga anggapan bahwa kualitas seseorang bisa dinilai dari jenis ponsel yang digunakan, membuat iPhone seolah menjadi standar tak tertulis. Akibatnya, muncul rasa takut ketinggalan (FOMO) jika tidak menggunakan produk yang sama.
Baca Juga:Ramai Gerakan GEMAR Saat Ambil Rapor, Ternyata Ini Makna Besar di BaliknyaRekomendasi Liburan Nataru Paling Lengkap di Karawang Selatan, Kamu Wajib Cobain!
Sejumlah survei dan riset perilaku konsumen menunjukkan, banyak orang dari kelompok pendapatan menengah ke bawah percaya bahwa menggunakan iPhone dapat meningkatkan citra diri dan status sosial. Kepercayaan inilah yang kemudian dimanfaatkan secara cerdas oleh strategi pemasaran Apple.
Apple dikenal piawai memainkan sisi emosional konsumen. Mereka jarang menjual spesifikasi mentah, tetapi menjual gaya hidup, prestise, dan rasa eksklusif. Pesan yang tersampaikan secara halus adalah: hidup akan terasa lebih keren, lebih dihargai, dan lebih “naik kelas” jika menggunakan produk mereka.
Di sisi lain, kemudahan sistem cicilan membuat keputusan membeli iPhone terasa ringan di awal. Angka cicilan bulanan yang terlihat kecil sering kali menipu persepsi, padahal jika ditotal, beban finansialnya bisa cukup berat. Belum lagi bunga, biaya tambahan, dan kebutuhan lain yang harus tetap dipenuhi dari gaji yang terbatas.
Ironisnya, keputusan membeli iPhone tidak selalu berdampak pada peningkatan kualitas hidup. Alih-alih naik kelas, sebagian orang justru terjebak dalam kondisi keuangan yang makin sempit. Gaji habis untuk cicilan, ruang menabung menyempit, dan stres finansial pun meningkat.
