Dalam berinvestasi, Purbaya mengingatkan agar tidak langsung tergiur instrumen berisiko tinggi. Ia menyarankan urutan investasi dimulai dari yang paling aman dan likuid, seperti deposito. Setelah itu, bisa berlanjut ke obligasi negara ritel, reksa dana, dan saham, dengan catatan sudah memiliki pemahaman teknikal dan fundamental yang cukup.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap investasi bodong yang menjanjikan keuntungan besar dan pasti. Menurutnya, jika sebuah penawaran terdengar terlalu indah untuk menjadi kenyataan, maka besar kemungkinan itu memang jebakan.
Jangan FOMO, Investasi Tidak Pernah Terlambat
Purbaya menegaskan bahwa dalam dunia investasi tidak ada istilah terlambat. Yang justru berbahaya adalah ikut-ikutan tren karena takut ketinggalan tanpa memahami risikonya. Keputusan keuangan yang emosional sering berujung pada kerugian.
Paylater Dinilai Produk Jebakan
Baca Juga:Diluar Dugaaan Top Skor Persija Jakarta Maxwell Souza Merapat ke BandungRahasia Kulit Kinclong, B ERL Active Glow Booster Serum Gen Z!
Dalam kesempatan tersebut, Purbaya juga menyoroti maraknya penggunaan paylater. Ia menyebut layanan ini berpotensi menjadi jebakan konsumtif karena mendorong orang membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Paylater sebaiknya hanya digunakan dalam kondisi darurat, bukan untuk gaya hidup.
Pesan Besar: Hidup Sesuai Kebutuhan
Baik dalam skala pribadi maupun negara, Purbaya menekankan pentingnya belanja secara bijak dan anti flexing. Pengeluaran seharusnya didasarkan pada kebutuhan, bukan demi gengsi atau pencitraan.
Dengan disiplin menabung, mengendalikan gaya hidup, serta berinvestasi secara bertahap dan rasional, target Rp100 juta pertama bukan lagi mimpi, bahkan bagi pekerja dengan gaji UMR.
