Saham Konglomerasi Berguguran Usai Keputusan MSCI, Emiten Mana Paling Tertekan?

Layar perdagangan menunjukkan pelemahan tajam saham-saham konglomerasi yang tertekan aksi jual masif dan menye
Layar perdagangan menunjukkan pelemahan tajam saham-saham konglomerasi yang tertekan aksi jual masif dan menyeret pergerakan IHSG pada perdagangan Rabu.
0 Komentar

KBEONLINE.ID KARAWANG — Tekanan jual besar-besaran melanda saham-saham konglomerasi berkapitalisasi jumbo pada perdagangan Rabu (28/1/2026).

Sejumlah emiten yang selama ini menjadi penopang utama pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau ambles tajam, bahkan sebagian menyentuh Auto Rejection Bawah (ARB).

Deretan saham dari kelompok usaha besar seperti Grup Barito (BREN, BRPT, CUAN), Grup Bakrie (BUMI, ENRG), Grup Sinar Mas (DSSA), hingga Agung Sedayu Group (PANI) kompak berada dalam tekanan.

Baca Juga:Daftar Harta Kekayaan Thomas Djiwandono Versi LHKPN, Keponakan Prabowo yang Resmi Jadi Deputi Gubernur BIProfil Thomas Djiwandono, Keponakan Prabowo yang Resmi Jadi Deputi Gubernur Bank Indonesia 2026–2031

Koreksi serentak ini menimbulkan kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar, khususnya terkait keberlanjutan aliran dana asing.

Pelemahan saham-saham konglomerasi tersebut tidak terlepas dari pengumuman MSCI yang memutuskan untuk membekukan penyesuaian bobot indeks saham Indonesia.

Kebijakan ini diambil menyusul kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan dan tingkat free float sejumlah emiten besar.

Keputusan MSCI tersebut langsung direspons negatif oleh pasar. Investor menilai, tanpa dukungan arus dana pasif dari indeks global, valuasi premium saham-saham konglomerasi berisiko terkoreksi dan kembali menyesuaikan dengan kondisi fundamentalnya.

Situasi ini mendorong investor institusi maupun ritel untuk melakukan aksi ambil untung hingga cut loss.

Masalah lain yang kini mencuat adalah risiko likuiditas saham. Sejumlah saham konglomerasi tercatat ditutup di level ARB dengan antrean jual menumpuk, sementara minat beli sangat terbatas.

Kondisi tersebut membuat investor kesulitan merealisasikan penjualan saham dalam waktu singkat.

Baca Juga:Noel Ebenezer Wanti-wanti Soal Persoalan Hukum, Purbaya: Biar SajaSeorang Balita Perempuan Diduga Terseret Arus Kali Cikarang Saat Bermain, Tim Gabungan Lakukan Pencarian

Jika tekanan jual ini berlanjut, maka saham-saham berbobot besar yang selama ini menopang IHSG justru berpotensi menjadi pemberat utama pergerakan indeks.

Berdasarkan analisis riset, pelemahan berkelanjutan pada saham konglomerasi berkapitalisasi besar dapat membawa IHSG ke fase koreksi yang lebih dalam.

Jika saham-saham tersebut terus mengalami penurunan signifikan atau bahkan dikeluarkan dari perhitungan bobot utama indeks global, IHSG berisiko turun menuju area 7.000, bahkan tidak menutup kemungkinan menyentuh level psikologis 6.000-an.

Kondisi ini menjadikan keputusan MSCI sebagai salah satu sentimen krusial yang akan menentukan arah pasar saham Indonesia dalam jangka pendek hingga menengah.

0 Komentar