Pasar Sasagaran, Nostalgia Jajanan Jadul yang Ramai Diserbu Wisatawan

Pasar Sasagaran
Setiap Minggu pagi, suasana Desa Dangdeur, Kecamatan Bungursari, Kabupaten Purwakarta, seolah berputar kembali ke masa lalu.
0 Komentar

PURWAKARTA – Setiap Minggu pagi, suasana Desa Dangdeur, Kecamatan Bungursari, Kabupaten Purwakarta, seolah berputar kembali ke masa lalu. Di tengah udara pagi yang sejuk dan arus warga yang terus berdatangan, Pasar Sasagaran hadir sebagai ruang nostalgia yang mempertemukan kenangan masa silam dengan kehidupan hari ini.

Aroma jajanan tradisional menyeruak di sepanjang area pasar. Bau gemblong, comro, hingga bajigur hangat menguar di udara, membawa ingatan pada rasa-rasa lama yang kini semakin jarang ditemui. Tak heran, pasar tematik ini selalu dipadati pengunjung setiap akhir pekan.

Pasar Sasagaran bukan pasar pada umumnya. Seluruh lapak yang berdiri hanya menjajakan kuliner tradisional khas tempo dulu tanpa sentuhan kemasan modern. Konsep sederhana inilah yang justru menjadi pembeda sekaligus daya tarik utama bagi wisatawan.

Baca Juga:Akses Stadion Singaperbangsa Tetap Ditutup, Pemkab Pastikan Sekolah Mentari Ilmu Siapkan Akses Baru Warisan Miliaran Rupiah Dikuasai Bibi, Dua Anak Yatim di Karawang Tak Kunjung Dapat Perlindungan Hukum

Ribuan pengunjung tercatat memadati area pasar setiap Minggu. Mereka datang tidak hanya dari Purwakarta, tetapi juga dari daerah sekitar seperti Subang, Karawang, bahkan Jakarta.

Beragam jajanan tradisional tersaji apa adanya di sepanjang pasar. Mulai dari gemblong, comro, curandil, kelepon, dodongkal, cucur, opak, kacang rebus, uli ketan, sate kikil, hingga pais belut. Minuman khas seperti bajigur dan es goyobod turut melengkapi pengalaman kuliner yang menghangatkan suasana.

Tanpa kemasan modern dan penyajian berlebihan, jajanan-jajanan tersebut justru tampil jujur. Kesederhanaan rasa menjadi magnet tersendiri bagi pengunjung yang rindu cita rasa masa kecil.

Tak hanya soal kuliner, Pasar Sasagaran juga menghadirkan potret kehidupan tempo dulu melalui permainan anak tradisional. Mainan seperti perahu kelotok kembali diperkenalkan, memberi ruang bagi anak-anak masa kini untuk mengenal permainan yang dulu akrab dengan generasi orang tua mereka.

Adi, salah seorang pengunjung asal Jakarta, mengaku baru pertama kali mengunjungi Pasar Sasagaran setelah melihat sejumlah unggahan di media sosial.

“Ini pertama kali ke sini, dan ternyata jajanan jadulnya lengkap. Bahkan masih ada mainan anak-anak zaman dulu,” ujarnya saat ditemui, Minggu (1/2/2026).

Dengan konsep unik dan nuansa tradisional yang kental, Pasar Sasagaran tak hanya menjadi destinasi wisata kuliner, tetapi juga ruang edukasi budaya yang menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat akan tradisi dan kearifan lokal Purwakarta. (Bbs/riz)

0 Komentar