KBEONLINE.ID – Isu ancaman inflasi 2026 mulai ramai dibahas. Sejumlah analis memperingatkan potensi penurunan daya beli akibat kenaikan harga kebutuhan pokok, tekanan geopolitik, hingga ketidakpastian ekonomi global. Dalam situasi seperti ini, banyak orang mulai mempertanyakan kembali: apakah emas dan saham masih menjadi aset paling aman?
Selama ini, emas dan pasar saham dianggap instrumen lindung nilai utama. Namun di tengah ancaman krisis pangan, air, dan energi, perhatian mulai bergeser ke aset riil—aset nyata yang menyentuh kebutuhan dasar manusia.
Inflasi dan Ancaman Penurunan Daya Beli
Skenario yang sering dibahas adalah kenaikan harga bahan pangan secara signifikan, sementara pendapatan tidak naik sebanding. Jika kondisi itu terjadi, maka kekayaan dalam bentuk uang tunai bisa tergerus cepat. Nilai nominal tetap sama, tetapi daya belinya menurun.
Baca Juga:Astaghfirullah! Demi Tutupi Aib, Pasangan Muda di Tambun Selatan Buang Bayi Sendiri, Polisi Tangkap Pelaku!Israr Megantara Menuju Matador: Pivot Timnas Asal Bekasi Bidik Karier di Spanyol
Karena itu, sebagian kalangan menilai aset yang tidak bisa “dicetak” atau dimanipulasi kebijakan moneter akan menjadi lebih strategis.
Aset Riil yang Disebut Akan Jadi “Raja”
Berikut beberapa aset nyata yang diprediksi semakin bernilai jika inflasi tinggi benar-benar terjadi:
1. Tanah Pertanian Produktif
Lahan yang mampu menghasilkan pangan dinilai sangat strategis. Dengan pertumbuhan penduduk dan penyusutan lahan produktif, pemilik tanah pertanian berpotensi memiliki daya tawar tinggi di masa depan.
2. Komoditas Pangan Strategis
Bisnis yang berkaitan langsung dengan kebutuhan perut disebut relatif tahan krisis. Orang mungkin menunda beli kendaraan, tetapi tidak bisa menunda makan.
3. Akses Air Bersih
Air bersih mulai dipandang sebagai aset vital. Wilayah dengan sumber air mandiri atau sistem pengelolaan air yang baik berpotensi memiliki nilai lebih di masa depan.
4. Tanaman Produktif Bernilai Industri
Komoditas seperti jahe merah, porang, atau kelapa dinilai punya nilai tambah karena dibutuhkan industri, bukan sekadar konsumsi lokal.
