KBEONLINE.ID – Tembok Besar China menjadi bukti nyata bagaimana sebuah peradaban rela mengerahkan tenaga, waktu, dan sumber daya luar biasa demi menjaga keamanan wilayahnya. Bangunan megah ini bukan sekadar tembok biasa, melainkan rangkaian benteng, dinding pertahanan, menara pengawas, hingga gerbang perdagangan yang membentang sepanjang 21.196 kilometer—menjadikannya struktur buatan manusia terpanjang di dunia.
Pembangunannya berlangsung selama kurang lebih 2.000 tahun, dimulai sejak abad ke-7 sebelum Masehi hingga abad ke-17. Pada masa Periode Negara Berperang, tembok-tembok pertahanan dibangun secara terpisah oleh negara-negara feodal untuk melindungi wilayahnya dari serangan musuh.
Ketika Tiongkok dipersatukan oleh Qin Shi Huang pada abad ke-3 SM, tembok-tembok tersebut disambungkan dan diperluas. Ratusan ribu pekerja, mulai dari tentara hingga narapidana, dikerahkan dalam proyek besar ini, meski harus menghadapi kondisi kerja yang sangat berat.
Baca Juga:Metode Sahur Sehat Viral: Cukup Telur Rebus, Alpukat, Kurma, dan Air Hangat, Perut Lebih Kenyang Tahan LamaBangunin Sahur atau Cari Musuh? Polisi Amankan Remaja Siap Perang Sarung di Telukjambe Timur
Pada masa Dinasti Han, tembok diperluas ke arah barat untuk melindungi Jalur Sutra—jalur perdagangan penting yang menghubungkan Tiongkok dengan dunia luar. Namun, pembangunan paling besar dan ikonik terjadi di era Dinasti Ming. Di masa inilah digunakan material yang lebih kuat seperti batu bata dan batu kapur. Sebagian besar bagian tembok yang masih berdiri kokoh hingga hari ini berasal dari periode Ming.
Memasuki era Dinasti Qing, pembangunan dihentikan karena wilayah kekuasaan sudah meluas hingga Manchuria dan Mongolia, sehingga ancaman dari utara berkurang drastis.
Fungsi tembok ini bukan hanya sebagai pertahanan militer dari suku nomaden seperti Xiongnu dan Mongol. Ia juga berperan sebagai alat kontrol perbatasan, pengawasan arus keluar-masuk orang, serta pengenaan pajak perdagangan di Jalur Sutra. Dengan kata lain, tembok ini adalah simbol strategi keamanan dan ekonomi sekaligus.
Fakta menariknya, sekitar 30 persen bagian tembok telah hilang akibat erosi dan aktivitas manusia. Tanpa upaya konservasi serius, sebagian struktur yang terbuat dari tanah padat diperkirakan bisa lenyap dalam beberapa dekade ke depan. Meski begitu, pada tahun 1987, Tembok Besar China resmi ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO dan diakui sebagai salah satu Keajaiban Dunia modern.
