- OLEH: RISKY PANGESTU JURNALIS CIKARANG EKSPRES
Cikarang hari ini bukan lagi sekadar nama kecamatan di timur Jakarta. Ia telah menjelma menjadi simbol pertumbuhan, pusat industri, ruang hidup jutaan orang, sekaligus etalase kemajuan Kabupaten Bekasi. Dari deretan pabrik berskala global hingga perumahan yang kian menjamur, dari kemacetan pagi di jalan-jalan utama hingga lampu-lampu kawasan industri yang tak pernah benar-benar padam Cikarang adalah denyut nadi ekonomi yang berdetak tanpa jeda.
Namun di balik segala geliat itu, muncul satu pertanyaan sederhana yang sesungguhnya sangat mendasar: kalau bukan kita, siapa yang jaga Cikarang?
Pertanyaan ini bukan sekadar slogan. Ia adalah panggilan kesadaran. Sebab kota atau tepatnya kawasan seperti Cikarang tidak hanya dibangun oleh beton, baja, dan investasi triliunan rupiah. Ia dijaga oleh kepedulian. Ia dirawat oleh rasa memiliki. Dan ia diselamatkan oleh tanggung jawab kolektif warganya.
Tak bisa dimungkiri, Cikarang adalah salah satu pusat industri terbesar di Asia Tenggara. Kawasan seperti Jababeka dan MM2100 Industrial Town menjadi rumah bagi ratusan bahkan ribuan perusahaan nasional dan multinasional. Ribuan buruh menggantungkan hidupnya di sini. UMKM tumbuh di sekitarnya. Rantai ekonomi berputar dari warung kopi hingga pusat perbelanjaan modern.
Baca Juga:Tugu Bambu Runcing di Cikarang Ditabrak, Sejarah Terluka: Warung Bongkok Bukan Sekadar Simbol JalanTak Ada Ampun! Polres Metro Bekasi Amankan Terduga Pelaku Pungli Pasar Baru Cikarang
Kontribusinya terhadap pendapatan daerah Kabupaten Bekasi sangat signifikan. Pajak, retribusi, hingga aktivitas ekonomi turunannya menjadi tulang punggung APBD. Bahkan, tak berlebihan jika menyebut Cikarang sebagai lokomotif yang menarik gerbong pembangunan di wilayah sekitarnya.
Namun justru karena perannya yang vital itulah, Cikarang tidak boleh dijaga dengan sikap masa bodoh.
Mesin ekonomi sebesar ini rentan bila dibiarkan tanpa pengawasan sosial. Ketika tata ruang diabaikan, banjir menjadi langganan. Ketika pengawasan lingkungan lemah, sungai berubah warna dan udara kehilangan kesegarannya. Ketika keamanan longgar, tawuran, balap liar, hingga kriminalitas menjadi ancaman nyata.
Kita sudah melihat sendiri bagaimana banjir di sejumlah titik Kabupaten Bekasi, termasuk wilayah sekitar Cikarang, melumpuhkan aktivitas warga. Drainase yang tak optimal, alih fungsi lahan, dan minimnya kesadaran menjaga lingkungan memperparah situasi.
