Menjaga Cikarang berarti juga menjaga anak-anak mudanya. Memberi ruang kreativitas, menyediakan sarana olahraga, memperkuat pendidikan karakter, dan menghadirkan figur teladan.
Kita tidak bisa hanya bangga pada pabrik-pabrik besar, tapi lalai membangun manusia di sekitarnya.
Isu penyelamatan aset daerah yang berada di luar wilayah administratif Kabupaten Bekasi, misalnya di Kota Bekasi, juga menjadi refleksi penting. Aset milik publik adalah milik rakyat. Jika tidak dijaga, ia bisa hilang, terbengkalai, atau dimanfaatkan tidak optimal.
Baca Juga:Tugu Bambu Runcing di Cikarang Ditabrak, Sejarah Terluka: Warung Bongkok Bukan Sekadar Simbol JalanTak Ada Ampun! Polres Metro Bekasi Amankan Terduga Pelaku Pungli Pasar Baru Cikarang
Ketika pemerintah berupaya menyelamatkan dan mengoptimalkan aset untuk meningkatkan pendapatan asli daerah, masyarakat seharusnya ikut mengawasi dan mendukung. Transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci.
Karena pada akhirnya, setiap rupiah yang masuk ke kas daerah seharusnya kembali ke rakyat dalam bentuk pelayanan yang lebih baik.
Menjaga Cikarang juga berarti memastikan kekayaan daerah tidak bocor, tidak disalahgunakan, dan tidak dikuasai segelintir pihak.
Di tengah deru mesin industri, kita tak boleh lupa bahwa Cikarang juga memiliki sungai, ruang terbuka, dan ekosistem yang harus dilindungi. Kerusakan lingkungan bukan hanya soal hari ini, tapi soal masa depan.
Jika sungai terus tercemar limbah, jika ruang hijau terus menyusut, maka generasi mendatang hanya akan mewarisi masalah.
Kesadaran industri untuk patuh pada aturan lingkungan harus dibarengi dengan pengawasan ketat. Namun masyarakat pun tidak boleh abai. Kampanye kebersihan, penanaman pohon, dan gerakan peduli lingkungan harus menjadi budaya, bukan sekadar seremoni.
Menjaga Cikarang berarti berpikir jangka panjang. Bukan hanya tentang keuntungan hari ini, tetapi tentang keberlanjutan esok hari.
Baca Juga:BTS Comeback Spektakuler! Kolaborasi Eksklusif dengan Netflix Bikin ARMY Heboh DuniaTerungkap! Rahasia di Balik Kelezatan Ayam Tepung yang Bikin Dunia Ketagihan, Sejarah Dari Dua Negara
Di tengah semua dinamika ini, media memiliki peran penting sebagai penjaga demokrasi lokal. Kritik yang konstruktif, laporan investigatif, dan pemberitaan yang berimbang menjadi bagian dari upaya menjaga Cikarang.
Pers yang terlalu dekat dengan kekuasaan berisiko kehilangan daya kritis. Namun pers yang bertanggung jawab akan menjadi jembatan antara rakyat dan pemerintah.
Kontrol sosial tidak boleh mati. Karena ketika kritik dibungkam, penyimpangan akan tumbuh subur.
Pada akhirnya, pertanyaan “kalau bukan kita, siapa yang jaga Cikarang?” adalah ajakan untuk berhenti menunjuk dan mulai bergerak.
