Kisah Mak Iyoh: Puluhan Tahun Menjaga Cita Rasa Jojongkong dan Jalabria di Karawang

Kisah Mak Iyoh: Puluhan Tahun Menjaga Cita Rasa Jojongkong dan Jalabria di Karawang
Kisah Mak Iyoh: Puluhan Tahun Menjaga Cita Rasa Jojongkong dan Jalabria di Karawang
0 Komentar

KBEONLINE.ID KARAWANG — Di usianya yang telah menginjak 60 tahun, Mak Iyoh masih setia mempertahankan cita rasa jajanan tradisional khas Sunda seperti jojongkong dan jalabria. Perempuan yang tinggal di Cibungur Indah, Kelurahan Karawang Wetan, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang ini telah menekuni usaha tersebut selama puluhan tahun.

Mak Iyoh mengaku mulai belajar membuat kue tradisional sejak masih kecil. Ia terbiasa melihat ibunya memasak di dapur, hingga akhirnya keterampilan itu ia kuasai dan dijadikan sebagai sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Sejak kecil sudah sering melihat ibu membuat kue. Lama-kelamaan saya ikut belajar dan sekarang sudah menjadi kebiasaan,” ujar Mak Iyoh saat ditemui di kediamannya, Jumat (6/3).

Baca Juga:Rekomendasi Liburan Lebaran: Glamping Ramah Keluarga dan Mewah di Jawa BaratDari Gerobak Sederhana Jadi Legenda Bandung: Ini Kisah Asal Usul Cendol Elizabeth.

Dalam membuat jojongkong, Mak Iyoh menggunakan bahan-bahan sederhana seperti tepung beras, tepung kanji, gula merah, daun pandan, dan pisang nangka. Proses pembuatannya dimulai dengan merebus air hingga mendidih menggunakan kawali atau wajan tanah, kemudian dicampurkan dengan tepung beras yang telah disiapkan.

Adonan tersebut diaduk hingga kalis, lalu ditambahkan tepung kanji agar teksturnya lebih kenyal. Setelah itu, adonan dikukus dan disajikan bersama kuah gula merah yang dimasak secara terpisah.

Untuk sekali produksi, Mak Iyoh biasanya menggunakan tiga bungkus tepung beras yang dapat menghasilkan sekitar satu nyiru penuh kue.

Selain jojongkong, ia juga membuat jalabria dan gemblong, dua jenis jajanan pasar yang cukup diminati masyarakat. Jalabria sendiri dibuat dari adonan tepung yang dicampur gula merah, kemudian digoreng hingga berwarna cokelat keemasan.

Menurut Mak Iyoh, permintaan terhadap jajanan tradisional tersebut biasanya meningkat saat bulan Ramadan. Banyak warga membeli kue buatannya sebagai hidangan takjil untuk berbuka puasa.

“Kalau bulan puasa biasanya lebih ramai. Sekali bikin bisa sampai sekitar 100 bungkus, termasuk kolek pisang dan jojongkong,” katanya.

Mak Iyoh menjual kue-kue tersebut dengan harga sekitar Rp5.000 per bungkus. Namun, jika pembelian dalam jumlah banyak, harganya bisa menjadi Rp4.000 per bungkus.

Baca Juga:Orang Tua Wajib Tahu! Ini 8 Sekolah Kedinasan Gratis! Lulusannya Berpeluang Besar Langsung Jadi CPNSKABAR BAIK Tunjangan Profesi Guru Cair Lebaran! Estimasi SKTPG Terbit 9–12 Maret 2026 

Pada masa lalu, ia berjualan dengan cara berkeliling sejak pukul 06.00 pagi sambil berjalan kaki membawa dagangannya. Biasanya, dalam waktu satu hingga dua jam, seluruh jualannya sudah habis.

0 Komentar