Steam Disebut Minta Maaf, Komdigi: Ini Cuma Miskomunikasi

Steam Disebut Minta Maaf, Komdigi: Ini Cuma Miskomunikasi
Steam Disebut Minta Maaf, Komdigi: Ini Cuma Miskomunikasi
0 Komentar

KBEOnline.id – Akhirnya, kekacauan rating game di Steam terurai juga. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bilang mereka sudah menerima permintaan maaf dari Steam, gara-gara rusuh soal sistem Indonesia Game Rating System (IGRS) yang sempat bikin gamer tanah air panas.

Sonny Hendra Sudaryana jelaskan, masalah utamanya cuma masalah miskomunikasi teknis. Rating yang sempat muncul di Steam ternyata belum nyambung ke sistem pemerintah. Jadi, datanya masih versi self-assessment dari Steam, belum lewat proses verifikasi atau persetujuan Komdigi.

Harusnya, rating itu dikirim dulu ke Komdigi supaya bisa ditinjau sebelum di-publish. Tapi kali ini ada satu tahap yang “lolos,” sistemnya masih uji coba, eh sudah muncul ke publik. Ibarat draft belum diedit, tapi keburu dicetak dan sudah dibaca banyak orang.

Baca Juga:Menguliti ESRB, PEGI, CERO dan Gonjang-Ganjing IGRSCrimson Desert Raup Rp3 Triliun, PS5 Jadi Penyumbang Utama

Komdigi juga bilang kerja sama sama Valve Corporation masih setengah jalan. Belum ada MoU resmi, belum ada integrasi teknis kayak API untuk menghubungkan dua sistem. Jadi wajar banget, implementasi awalnya nggak sinkron, gampang terjadi miskom.

Sebelumnya, kerusuhan ini sempat viral karena rating “ngaco” banget. Game konten dewasa malah dapat rating usia rendah, sementara game top kayak Clair Obscur: Expedition 33 dan Metal Gear Solid Delta: Snake Eater justru ditandai nggak layak distribusi. Komunitas langsung ribut di media sosial, suasana panas.

Sekarang, semuanya sudah agak tenang. Steam balik pakai sistem PEGI untuk pengguna Indonesia, fitur IGRS dihapus dulu. Belum jelas apakah ini cuma jeda sementara atau reset total sebelum sistem baru diluncurkan lagi.

Yang pasti, pemerintah dan Steam sudah janjian buat ketemu lagi. Di sana bakal diputuskan mau gimana selanjutnya—perbaiki integrasi atau bikin dari nol.

Intinya, kejadian ini jadi pelajaran. Bikin sistem rating itu nggak cuma soal regulasi, tapi harus teknis dan komunikasi juga klop. Begitu ada yang meleset, imbasnya langsung terlihat nyata di toko digital yang dikunjungi jutaan orang. (*)

0 Komentar