Udon tampil lebih minimalis. Topping-nya cenderung sederhana seperti daun bawang, tempura, atau tahu goreng manis. Justru dari kesederhanaan ini, karakter udon terasa lebih clean dan tidak berlebihan.
Perjalanan Panjang dari Masa Lalu
Menariknya, kalau ditarik ke belakang, udon jauh lebih tua dibanding ramen. Mi ini sudah dikenal sejak abad ke-8 atau ke-9. Banyak yang mengaitkan penyebarannya dengan Kukai, seorang biksu yang membawa teknik pembuatan mi dari Tiongkok ke Jepang, khususnya di wilayah Kagawa.
Seiring waktu, udon berkembang menjadi makanan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Pada era Edo, mi ini menjadi hidangan sehari-hari karena bahan bakunya mudah didapat. Dari sinilah udon dikenal sebagai comfort food khas Jepang.
Baca Juga:MISI Kembali ke DPRD, Yani Kalina Pimpin PPP Karawang 2026ā2031, Target 6 Kursi di Pemilu 2029GERCEP, Menaker Pastikan Hak Jaminan Sosial Korban Kecelakaan KA Bekasi Terpenuhi
Berbeda dengan udon, ramen justru muncul jauh lebih belakangan. Awalnya dikenal sebagai Shina Soba, ramen diperkenalkan oleh imigran Tiongkok di pelabuhan seperti Yokohama pada akhir abad ke-19.
Popularitasnya melonjak setelah Perang Dunia II, saat pasokan gandum melimpah dan masyarakat membutuhkan makanan yang praktis sekaligus mengenyangkan. Titik balik terbesar terjadi ketika Momofuku Ando menciptakan mi instan pertama pada tahun 1958. Inovasi ini membuat ramen menyebar ke seluruh dunia dengan sangat cepat.
Dua Mi, Dua Cerita yang Sama Kuat
Hari ini, baik Ramen maupun Udon sama-sama punya tempat spesial di hati pecinta kuliner. Ramen dikenal sebagai simbol modernisasi dan kreativitas rasa, sementara udon tetap bertahan sebagai representasi tradisi yang sederhana dan hangat.
Pada akhirnya, memilih antara ramen dan udon bukan soal mana yang lebih enak, tapi lebih ke pengalaman seperti apa yang ingin kamu rasakan. Apakah ingin sesuatu yang kaya rasa dan penuh eksplorasi, atau justru yang ringan dan menenangkan.
Dan mungkin, jawaban terbaiknya adalah mencoba keduanya di waktu yang berbeda.
(Lili)
