Sisi Gelap 'Completionist': Mengapa Mengejar Progress 100% di Dalam Game Justru Bikin Lelah

Counter Strike 2
Angka progres 100% dan piala emas virtual yang sering kali tampak memuaskan di layar, namun di balik itu semua, ada puluhan jam aktivitas repetitif yang mengorbankan kesenangan murni bermain.
0 Komentar

KBEonline.id – Bagi sebagian besar orang, bermain game adalah sarana terbaik untuk melarikan diri sejenak dari penatnya realitas, tuntutan pekerjaan, atau tumpukan tugas yang menguras energi. Di dalam dunia virtual, kita memegang kendali penuh atas petualangan kita sendiri. Namun, belakangan ini ada fenomena menarik yang perlahan mengubah fungsi hiburan tersebut menjadi sesuatu yang sebaliknya. Banyak gamer yang terjebak dalam obsesi untuk menjadi seorang completionist—sebuah istilah untuk mereka yang tidak akan berhenti bermain sebelum angka progres di dalam game menyentuh 100% dan seluruh daftar achievements atau trophy digital berhasil terbuka. Tanpa disadari, dorongan ini sering kali mengubah aktivitas yang semestinya rekreatif menjadi sebuah “pekerjaan rumah” baru yang penuh tekanan.

Ketika Hiburan Berubah Menjadi Daftar Tuntutan Kerja

Pada awalnya, sistem achievement diciptakan oleh para pengembang game sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi pemain atau sebagai penanda bahwa Anda telah menemukan rahasia tersembunyi di dalam game. Sayangnya, bagi otak kita yang haus akan validasi, daftar tugas digital ini kerap kali bertransformasi menjadi sebuah keharusan. Anda mungkin pernah merasakannya: alih-alih menikmati keindahan pemandangan atau larut dalam emosi cerita, Anda justru sibuk membuka panduan di internet untuk mencari ratusan barang antik yang tersebar acak di peta yang sangat luas. Ketika Anda menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk melakukan aktivitas repetitif yang membosankan demi sebuah lencana virtual, di situlah esensi bersenang-senang telah bergeser menjadi rutinitas kerja yang melelahkan.

Tekanan Psikologis di Balik Angka Progres Digital

Secara psikologis, obsesi ini sangat berkaitan dengan rasa takut kehilangan momen atau keengganan untuk membiarkan sesuatu menggantung tanpa penyelesaian. Melihat angka progres yang mandek di 85% sering kali menimbulkan kecemasan tersendiri, seolah-olah kita telah “gagal” memaksimalkan potensi game yang sudah kita beli mahal-mahal. Tuntutan mental ini diperparah oleh desain game modern yang sengaja dirancang sangat masif dengan ribuan misi sampingan yang sebenarnya tidak menambah nilai cerita secara signifikan. Akibatnya, alih-alih merasa segar setelah bermain, kita justru merasa lelah secara mental, sebuah kondisi yang sering memicu kejenuhan bermain game secara prematur atau yang biasa kita kenal sebagai gaming fatigue.

0 Komentar