Banyak perencana keuangan menyarankan agar pekerja lajang memiliki dana darurat minimal tiga hingga enam kali pengeluaran bulanan. Jika pengeluaran seseorang sekitar Rp4 juta per bulan, maka dana darurat ideal berada di kisaran Rp12 juta hingga Rp24 juta. Nominal tersebut memang terlihat besar jika dikumpulkan sekaligus, tetapi akan terasa lebih ringan bila dicicil setiap bulan. Misalnya menyisihkan Rp500 ribu setiap bulan, maka dalam dua tahun seseorang sudah memiliki dana darurat sekitar Rp12 juta di luar bunga atau keuntungan investasi. Kuncinya bukan pada besarnya nominal, melainkan konsistensi dalam menyisihkan uang sebelum digunakan untuk kebutuhan lain.
Bagi pekerja yang masih tinggal bersama orang tua sehingga pengeluarannya lebih kecil, proses mengumpulkan dana darurat justru bisa lebih cepat. Sebaliknya, bagi mereka yang sudah berkeluarga, target dana darurat biasanya lebih besar karena harus memperhitungkan kebutuhan pasangan dan anak. Idealnya, setelah menerima gaji, sisihkan terlebih dahulu dana darurat, baru kemudian gunakan sisanya untuk kebutuhan sehari-hari. Cara ini jauh lebih efektif dibanding menunggu ada uang sisa di akhir bulan, karena pada kenyataannya sisa tersebut sering kali tidak pernah ada.
Di Mana Sebaiknya Dana Darurat Disimpan?
Kesalahan yang masih sering dilakukan banyak orang adalah mencampur dana darurat dengan rekening gaji. Akibatnya, uang yang seharusnya disimpan untuk keadaan mendesak justru habis digunakan untuk belanja, nongkrong, atau kebutuhan konsumtif lainnya. Dana darurat sebaiknya ditempatkan di rekening terpisah yang mudah diakses saat benar-benar dibutuhkan, tetapi tidak terlalu mudah diambil setiap hari. Dengan cara tersebut, seseorang akan lebih disiplin dalam menjaga uang yang telah dikumpulkan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Baca Juga:Banyak yang Belum Tahu? Ternyata Air Minum Warga Jakarta Berasal dari Purwakarta! Begini Perjalanan PanjangnyaKok Bisa Ada Tempat Wisata Seribu Batu di Purwakarta? Begini Cerita Lengkap Pasir Kole Stone Park
Selain rekening tabungan, dana darurat juga dapat disimpan pada instrumen keuangan yang relatif aman dan mudah dicairkan, seperti deposito jangka pendek atau reksa dana pasar uang. Pilihan ini memungkinkan uang tetap berkembang meski nilainya tidak terlalu besar. Yang terpenting, dana darurat bukanlah uang untuk investasi berisiko tinggi ataupun modal trading. Tujuan utamanya adalah menjaga likuiditas sehingga bisa digunakan kapan saja ketika terjadi keadaan mendesak, seperti kehilangan pekerjaan, biaya pengobatan, atau kebutuhan keluarga yang tidak bisa ditunda.
