Produk kedua yang diperkenalkan adalah sabun cair berbasis minyak jelantah. Pada sesi ini, peserta mendapatkan penjelasan mengenai proses saponifikasi menggunakan KOH, tahapan pengenceran, serta pentingnya keselamatan kerja karena bahan kimia yang digunakan bersifat kaustik. Tim pelaksana menekankan pentingnya penggunaan alat pelindung diri, kehati-hatian dalam pencampuran bahan, dan pengukuran pH agar sabun yang dihasilkan lebih aman digunakan sebagai produk pembersih.
Kegiatan ini juga dilengkapi dengan evaluasi pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta. Berdasarkan hasil pengolahan data, sebanyak 22 responden mengikuti evaluasi. Rata-rata skor pengetahuan peserta meningkat dari 31,91 pada pre-test menjadi 41,86 pada post-test. Hasil ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat setelah mengikuti kegiatan sosialisasi dan pelatihan.
Peningkatan pengetahuan terutama terlihat pada aspek pemahaman mengenai bahaya minyak goreng yang dipanaskan berulang, dampak pembuangan minyak jelantah ke saluran air, serta peluang pengolahan minyak jelantah menjadi produk bernilai guna seperti sabun cair dan lilin aromaterapi. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan edukasi berbasis praktik langsung mampu membantu masyarakat memahami persoalan lingkungan secara lebih konkret.
Baca Juga:Sinopsis, Pemain dan Jadwal Tayang Drama China Terbaru The Early SpringSkema Tabel KUR BRI 2026 Rp50 Juta untuk Tambahan Modal UMKM, Berapa Cicilan 2 Tahun?
Bagi masyarakat Desa Tamansari, kegiatan ini bukan hanya menjadi sarana edukasi, tetapi juga membuka peluang baru dalam pengembangan kreativitas dan usaha rumah tangga. Dengan bahan baku yang mudah ditemukan, minyak jelantah dapat dikumpulkan, dimurnikan, kemudian diolah menjadi produk yang lebih bermanfaat. Ke depan, kegiatan ini diharapkan dapat mendorong terbentuknya rintisan bank jelantah komunitas sebagai sistem pengumpulan minyak bekas dari rumah tangga dan pelaku usaha pangan.
Melalui kegiatan ini, Tim PKM UNSIKA berharap masyarakat semakin sadar bahwa pengelolaan limbah rumah tangga dapat dimulai dari langkah sederhana. Minyak jelantah yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat diolah menjadi produk ramah lingkungan, bernilai ekonomi, dan mendukung gerakan desa berkelanjutan.
Dengan semangat kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat, kegiatan pengolahan minyak jelantah di Desa Tamansari menjadi contoh nyata bahwa inovasi sederhana dapat memberikan manfaat sosial, lingkungan, dan ekonomi bagi warga. (*)
