JALAN RUSAK : Kondisi jalan rusak di Cilamaya, menganggu aktifitas masyarakat dan pengguna jalan.

SETARA PANJANG JALAN BOLAK-BALIK KARAWANG-JAKARTA

KARAWANG- Total ruas jalan rusak di Kaarawang masih terbilang panjang. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Karawang, Dedi Ahdiat menyebut jalan rusak di kota lumbung padi tembus 125 kilometer. Panjang itu hampir menyamai jarak tempuh bolak-balik jalan Karawang- Jakarta.
Bahkan angka itu bisa jadi lebih, jika melihat kondisi jalan-jalan di pedesaan yang masih jadi tanggung jawab pemerintah daerah. Dedi mengungkapkan, perbaikan jalan di tahun 2020 kemarin tidak maksimal lantaran seluruh anggaran pemerintah difokuskan untuk penanganan pandemic ccovid-19.
“Total yang masih rusak 125 kilometer. Untuk perbaikan itu kita anggarkan Rp. 10 miliar,” ujar Dedi Ahdian, kepada KBE, Kamis, (4/2/2021).
Selain perbaikan jalan-jalan utama, lanjut Dedi, PUPR Karawang juga akan memfokuskan pada program ketahanan pangan. Di mana, program yang ia maksud ialah mendukung para petani untuk mendapat akses yang bagus.
Sehingga, produktivitas tani di Karawang menjadi lebih maksimal. Selain itu, harga gabah juga secara otomatis akan menjadi stabil. “Selama pandemi ini, kita harus dukung semua program yang berorientasi pada covid,” ujar Dedi yang juga menjabat Plt Kadis PRKP ini.
“Kami akan bangunkan turap-turap, juga jalan usaha tani yang bagus untuk membantu petani, supaya produksi padi meningkat,” kata dia.
Ia memahami, selama musim hujan ini banyak jalan-jalan rusak di Karawang yang mengganggu aktivitas masyarakat Karawang. Namun, kata Dedi, karena proses pekerjaan jalan melalui lelang. Jadi diharapkan, tuturnya, agar masyarakat sedikit bersabar.
“Saya juga tau dan merasakan titik-titik jalan yang rusak. Setiap lewat saya catat titik-titiknya, untuk diajukan ke bidang pekerjaan jalan,” ucap Dedi.
“Saya harap masyarakat sabar, karena pengerjaan perbaikan akan dimulai pertengahan tahun ini,” pungkasnya. 
Sebelumnya, curah hujan di wilayah Karawang sedang tinggi membuat jalan-jalan rusak banyak tergenang air. Di jalan raya Gembongan-Muarabaru misalnya, jalan yang tadinya sudah rusak. Jadi tambah rusak, lantaran terkikis air hujan.
Sepanjang jalan penghubung Kecamatan Banyusari dan Cilamaya Wetan itu. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak titik yang rusak parah. Hal ini, menjadi keluhan para pengendara sepeda motor.
Riko (25) warga Desa Sukatani, Kecamatan Cilamaya Wetan mengungkapkan, buruknya kondisi jalan itu kerap kali menimbulkan kecelakaan. Tak sedikit, kata dia, pengendara yang jatuh. Karena menerjang lubang besar yang tersamarkan genangan air.
“Ini sih rusak sudah lama, paling parah di Desa Rawagempol Kulon. Bahkan hampir tidak bisa dilalui mobil,” ungkapnya, Rabu, (3/2) kemarin.
Pengendara lain, Sandi (20) menuturkan, kondisi jalan itu sudah rusak selama bertahun-tahun. Sebagai pengendara yang sering melintasi jalan itu. Ia berharap, agar pemerintah segera melakukan perbaikan.
“Dari saya SMP jalan itu sudah rusak. Sempat di buat jalan beton. Ga lama, rusak lagi. Sampai sekarang belum diperbaiki,” kata pemuda Desa Cikalong ini.
Saat dikonfirmasi, Kepala Desa Sukatani, Kecamatan Cilamaya Wetan, Saman Masrukhin menjelaskan, di Kecamatan Cilamaya Wetan. Jalan tersebut melintasi empat desa. Yaitu, Desa Cikalong, Sukatani, Rawagempol Wetan, dan Muarabaru.
Di Desa Sukatani, kata Saman, ada beberapa titik lagi yang belum diperbaiki. Seharusnya, perbaikan itu bisa selesai di tahun. Namun, akibat pandemi. Banyak anggaran yang dialihkan untuk penanganan Covid-19.
“Saya harap tahun ini ga ada recofusing lagi. Supaya selesai dan rapih semua perbaikan infrastruktur,” tukasnya.

Sebelumnya, Kepala UPTD PUPR wilayah 4, Ujang menuturkan, sebenarnya ada perbaikan di beberapa titik kerusakan sepanjang jalan itu. Namun, kata Ujang, karena anggaran direcofusing. Maka perbaikan itu jadi tertunda.
“Perbaikannya jadi mundur ke tahun depan,” katanya. (wyd/mhs)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here