Melihat Jejak- jejak Kuno Peradaban Sunda di Museum Hisory of Sundaland Karawang,

0 Komentar

Menurut naskah Purwaka Caruban Nagari, Syekh Quro adalah seorang ulama Campa yang datang ke Nusantara bersama Laksamana Cheng Ho. Syekh Quro juga putra seorang ulama besar Perguruan Islam Campa yang bernama Syekh Yusuf Siddik.

Pentingnya museum adalah tempat belajar dan bermain generasi emas Indonesia .

Hal itu dikatakan Atalia Ridwan Kamil yang saat itu bersama  siswi siswi Karawang di History Of Sundaland Museum , Karnival ,Telukjambe  Karawang.

Kisah Syekh Quro barulah sebagian dari sejarah Karawang yang sampai kini merintis keberadaan Museum History of Sundaland.

Baca Juga:Ketika Vera Febyanthy Sangat Bersemangat untuk Mewujudkan Target Perolehan Suara Partai Demokrat di Dapil 7 JabarSoal Calon Gubernur Jabar dari Partai Demokrat, AHY: Kita Masih Melakukan Survey

Singkat cerita, Syekh Quro kemudian meninggal di Desa Pulo Kalapa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Karawang.

Saat ini tempat tersebut menjadi kawasan wisata religi paling terkenal di Karawang.

Selain tentang Syekh Quro, Anda pun dapat bertanya banyak hal menarik pada Story Teller atau pemandu tour Museum.

Seperti halnya mengenai asal-usul nama Karawang secara historis. Apalagi mengingat penceritaan Museum History of Sundaland sangat ikonik dengan Syekh Quro dari Karawang. Bahkan legenda Prabu Siliwangi yang perkasa dan lekat dengan penaklukkan “maung” atau macan Sunda.

Sejarah Nama Karawang
Sobat Museum, taukah Anda mengenai asal-usul nama Karawang itu sendiri?

Pada masa kedatangan Syekh Quro, daerah Karawang adalah hutan belantara yang berawa-rawa. Itulah mengapa Karawang berasal dari bahasa Sunda “Ke-rawa-an” artinya tempat berawa-rawa. Nama tersebut sesuai keadaan geografis Karawang yang dikelilingi rawa-rawa.

Selain sebagian rawa-rawa yang masih tersisa saat ini, banyak nama tempat diawali dengan kata rawa, seperti : Rawasari, Rawagede, Rawamerta, Rawagempol dan lain-lain.

Baca Juga:Disebut Kader Terbaik Demokrat Karawang, Cellica Dampingi AHY dan Istri Ngopi Bareng di Cafe LawangBupati Aep Groundbreaking RSUD Rengasdengklok, Ditarget Rampung Akhir 2024, Luas 2,3 Hektar, enam lantai dan 129 Tempat Tidur

Sejak dahulu, apabila orang-orang yang berpergian hendak melewati daerah rawa-rawa, maka demi keamanan mereka pergi berkafilah-kafilah menggunakan hewan seperti Kuda, Sapi, Kerbau atau, Keledai.

0 Komentar