KBEONLINE.ID – Memasuki tahun 2026, satu hal tak lagi bisa dihindari dalam proses rekrutmen kerja: pertanyaan soal kemampuan Artificial Intelligence (AI). Hampir semua HRD kini menjadikan penguasaan AI sebagai indikator kesiapan kandidat menghadapi dunia kerja modern. Namun, di balik itu, pertanyaan AI justru kerap menjadi jebakan yang menggugurkan banyak pelamar.Bukan karena mereka tidak bisa menggunakan AI, melainkan karena salah cara menjawab.
Kenapa HRD Menjadikan Skill AI sebagai Ujian Mental?
HRD di 2026 tidak sedang mencari karyawan yang bergantung penuh pada teknologi. Yang mereka cari adalah kandidat yang:
Mampu memanfaatkan AI secara efisien
Tetap memiliki nalar kritis
Memahami batasan dan etika penggunaan AI
Kesalahan terbesar pelamar adalah mengira HRD ingin mendengar jawaban “serba bisa”.
Pertanyaan Jebakan yang Paling Sering Muncul
“Sejauh apa Anda menguasai AI dalam pekerjaan?”
Jawaban yang sering menjebak:
Saya menggunakan AI untuk hampir semua pekerjaan.
Jawaban yang lebih aman:
Baca Juga:Awal 2026 yang Berat: Kabupaten Bekasi Dibawah Tekanan Urus KTP hingga Akta Kini Lebih Dekat, Disdukcapil Hadir di MPP Cikampek
Saya menggunakan AI sebagai alat bantu untuk mempercepat proses kerja, tetapi tetap melakukan analisis dan pengambilan keputusan secara mandiri.
“Apakah AI bisa menggantikan pekerjaan Anda?”
Jawaban berisiko:
Bisa, AI lebih cepat dan efisien.
Jawaban yang disukai HRD:
AI membantu meningkatkan produktivitas, tetapi tetap membutuhkan pemahaman konteks, empati, dan tanggung jawab manusia.
“Tools AI apa yang biasa Anda gunakan?”
Jawaban yang terkesan kosong:
Saya menguasai banyak tools AI.
Jawaban yang tepat:
Saya menggunakan AI sesuai kebutuhan pekerjaan, terutama untuk riset dan penyusunan konsep awal, serta selalu menyesuaikan dengan kebijakan perusahaan.
“Bagaimana jika AI memberikan informasi yang keliru?”
Jawaban fatal:
Biasanya langsung saya gunakan.
