KBEONLINE.ID KARAWANG – Puasa Ramadhan memang menjadi ibadah yang dinantikan banyak umat Muslim. Namun, bagi orang dengan kondisi kesehatan tertentu, termasuk gangguan fungsi ginjal, puasa tidak selalu bisa dijalani tanpa risiko.
Lalu, bagaimana pandangan medis terkait pasien ginjal yang ingin berpuasa?
Dokter Fery Juliawan bahwa keputusan berpuasa sangat bergantung pada nilai GFR (glomerular filtration rate) atau laju filtrasi glomerulus.
Angka ini menjadi indikator utama kemampuan ginjal dalam menyaring limbah dari darah.
Baca Juga:Masih Bisa Puasa Ramadhan Meski GERD? Ini Penjelasan Lengkap dari DokterMasih Makan Sahur Pada Saat Imsak Apakah Boleh? Ini Penjelasan Resmi Kemenag
Menurut dokter Fery, pasien dengan nilai GFR di bawah 40 sudah masuk kategori gangguan fungsi ginjal berat dan tidak dianjurkan menjalani puasa Ramadhan.
“Kalau fungsi ginjal sudah turun, 40 ke bawah, sebenarnya tidak dianjurkan lagi puasa. Karena yang paling berbahaya bagi pasien ginjal adalah kekurangan cairan,” ujarnya dikutip dari YouTube Dr Ferry TV Senin, (23/2/2026).
Puasa dalam kondisi tersebut berisiko menyebabkan dehidrasi. Padahal, kekurangan cairan justru dapat mempercepat penurunan fungsi ginjal dan memperburuk kondisi kesehatan secara keseluruhan.
Nilai GFR sendiri diketahui melalui pemeriksaan laboratorium, terutama dari hasil ureum dan kreatinin.
Semakin rendah angkanya, semakin berat kerja ginjal dalam menjalankan fungsinya.
Selain dari sisi medis, ia juga mengingatkan bahwa dalam ajaran Islam, puasa Ramadhan diwajibkan bagi mereka yang mampu dan dalam kondisi sehat.
“Islam jelas bahwa ibadah itu untuk orang yang sehat. Begitu GFR di bawah 40, sudah bayar fidyah selesai,” tegasnya.
Artinya, pasien dengan gangguan ginjal berat tidak perlu memaksakan diri berpuasa karena justru dapat membahayakan kesehatan.
Baca Juga:Niat Puasa Ramadhan dalam 6 Versi Lengkap: Dari Paling Panjang hingga Paling Pendek Versi Ulama NUPuasa Tetap Nyaman Meski Punya Maag, Begini Tips Aman dari Dokter Penyakit Dalam
Keputusan untuk berpuasa sebaiknya selalu didasarkan pada hasil pemeriksaan medis yang objektif serta konsultasi dengan dokter.
Bagi orang dengan fungsi ginjal normal atau gangguan ringan yang masih diperbolehkan berpuasa, menjaga kecukupan cairan menjadi kunci utama.
“Yang penting bukan waktunya yang dibagi rata, tapi total minum kita,” jelasnya.
Ia menyarankan agar asupan cairan dipenuhi sejak berbuka hingga sahur.
Minum bisa dilakukan lebih banyak saat berbuka, dilanjutkan secara bertahap di malam hari, dan kembali ditingkatkan saat sahur. Namun, konsumsi cairan berlebihan menjelang tidur sebaiknya dihindari.
