Mengapa Pahala Puasa Bisa Hilang? Ini Renungan Penting Agar Ibadah Ramadhan Tidak Sia-sia

Seorang Muslim membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan sebagai bentuk menjaga kualitas ibadah puasa agar bernilai
Seorang Muslim membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan sebagai bentuk menjaga kualitas ibadah puasa agar bernilai pahala di sisi Allah SWT.
0 Komentar

KBEONLINE.ID KARAWANG — Puasa Ramadhan memiliki kedudukan yang sangat istimewa di sisi Allah SWT.

Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan Abu Hurairah, Allah berfirman bahwa seluruh amal manusia kembali kepada dirinya, kecuali puasa.

Ibadah puasa secara khusus dinisbatkan kepada Allah dan hanya Dia yang akan membalasnya.

Baca Juga:Keutamaan Sholat Tarawih di Bulan Ramadhan yang Sayang Jika DilewatkanFungsi Ginjal di Bawah 40 Persen, Amankah Puasa Ramadhan? Ini Penjelasan Medis

Keistimewaan tersebut menjadikan puasa sebagai ibadah yang sangat mulia. Namun demikian, kemuliaan puasa tidak serta-merta menjamin pahala yang utuh.

Nabi Muhammad SAW pernah mengingatkan bahwa ada orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain rasa lapar dan haus.

Seringkali hal ini memunculkan pertanyaan seperti, kenapa pahala puasa dapat hilang atau nilainya berkurang di sisi Allah SWT?

Jawabannya bermula dari niat. Dikutip dari laman NU ONLINE Senin, (23/2/2026) dalam ajaran Islam, setiap amal bergantung pada niatnya.

Puasa Ramadhan bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi ibadah yang harus dilandasi keikhlasan penuh, semata-mata mengharap ridha Allah SWT.

Allah adalah Zat Yang Maha Pencemburu (al-Ghayyur). Karena itu, puasa tidak layak disertai niat selain untuk-Nya, baik demi tujuan kesehatan, pengakuan sosial, maupun sekadar rutinitas tahunan. Ketika niat tercampur, nilai ibadah pun terancam berkurang.

Selain niat, puasa juga menuntut penjagaan perilaku. Puasa tidak cukup dijaga dari hal-hal yang membatalkannya secara fikih, tetapi juga dari perbuatan yang menggerus pahala.

Baca Juga:Masih Bisa Puasa Ramadhan Meski GERD? Ini Penjelasan Lengkap dari DokterMasih Makan Sahur Pada Saat Imsak Apakah Boleh? Ini Penjelasan Resmi Kemenag

Di antaranya adalah berbohong, menipu, mengadu domba, ghibah, serta membiarkan pandangan terjerumus pada syahwat.

Rasulullah SAW menegaskan bahwa siapa saja yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.

Artinya, secara hukum puasa seseorang bisa saja sah, namun pahalanya menjadi kosong.

Inilah yang menjadikan Ramadhan bukan sekadar ibadah fisik, melainkan latihan akhlak dan pengendalian diri.

Ramadhan sejatinya adalah madrasah pembinaan ruhani bagi kaum Muslimin, tempat manusia ditempa agar menjadi pribadi yang lebih bertakwa, sabar, dan beradab.

Allah SWT sendiri menjadi pendidik utama dalam madrasah Ramadhan melalui Al-Qur’an dan tuntunan Rasul-Nya.

Sebagaimana ditegaskan dalam QS Al-Baqarah ayat 183, tujuan utama puasa adalah mencapai ketakwaan, bukan sekadar menunaikan kewajiban tahunan.

0 Komentar