Selanjutnya, keempat kandidat akan mengikuti UKK yang digelar serentak secara nasional. Proses ini diperkirakan berlangsung selama satu hingga dua bulan, sebelum hasilnya diumumkan hampir bersamaan di seluruh Indonesia.
Faizin menegaskan, uji kompetensi ini bukan sekadar formalitas. DPP akan melibatkan berbagai unsur, mulai dari akademisi, politisi, hingga kalangan profesional untuk menguji kapasitas para kandidat.
“Ada scoring, ada penilaian psikologi juga. Jadi tidak hanya teknis, tapi menyeluruh,” jelasnya.
Baca Juga:Festival Budaya dan Layanan Publik Diserbu Warga, Antusiasme Masyarakat Karawang MembludakJadwal Film Bioskop Trans TV Malam Ini 11 April 2026 Lengkap Sinopsis, Nonton Joe Taslim sebagai Sub-Zero!
Dalam uji tersebut, para kandidat dituntut memaparkan target dan strategi politik, termasuk rencana pemenangan Pemilu 2029, konsolidasi struktur partai, serta inovasi program kerja.
“Yang pasti ada target. Bagaimana strategi pemenangan, bagaimana langkah menuju 2029, itu semua akan diuji,” tambahnya.
Meski berasal dari latar belakang berbeda, Faizin menilai keempat kandidat memiliki peluang yang sama. Penilaian sepenuhnya bergantung pada perspektif DPP dalam melihat kapasitas dan kecocokan masing-masing calon.
“Semua punya potensi. Tinggal DPP melihat dari sisi mana yang paling dianggap capable,” katanya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa mekanisme ini juga dirancang untuk menekan potensi konflik internal sekaligus biaya politik dalam Muscab.
“Tujuannya menjaga soliditas. Jangan sampai Muscab justru menimbulkan gesekan antar calon. Dengan sistem ini, semua diharapkan patuh pada keputusan DPP,” tandasnya. (Iky)
