Untuk menghadapi musim kemarau, Dinas Pertanian terus berkoordinasi dengan berbagai instansi seperti Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), PJT II, Kementerian Pertanian, serta Dinas Sumber Daya Air Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Bekasi guna memastikan pasokan air irigasi tetap tersedia.
Selain itu, kelompok tani diminta menyesuaikan jadwal tanam dengan prakiraan musim agar tidak bertepatan dengan puncak kemarau.
“Koordinasi dilakukan untuk perbaikan saluran irigasi, penguatan tanggul, serta pengaturan distribusi air agar kebutuhan petani tetap terpenuhi selama musim kemarau. Kemudian kelompok tani juga kami memastikan musim tanam tidak bertepatan dengan puncak musim kemarau. Kami juga data sumur dan pompa sehingga bila mana terjadi kekeringan, kami langsung bisa salurkan titik terdekat dari sumber air,” jelasnya.
Baca Juga:SMPN 01 Cikarang Pusat Ajarkan Murid Menjaga Ekosistem Tumbuhan Sajak Dini Bupati Karawang Aep Syaepuloh Ajak Masyarakat Jaga Nilai Keagamaan dan Keberagaman di Pawai Obor 1 Muharram
Sebagai langkah adaptasi, petani di wilayah rawan kekeringan dianjurkan menggunakan varietas padi tahan kering seperti Inpago 4, Inpago 5, Inpago 8, Inpago 9, Inpago 10, Inpago 11 Agritan, Inpari 32, Inpari 38 Tadah Hujan Agritan, maupun varietas lokal yang memiliki toleransi terhadap kekurangan air.
“Tentunya diharapkan dengan langkah antisipasi ini bisa mengurangi risiko atas dampak yang mungkin ditimbulkan dari kemarau ke depan,” pungkas Dodo. (Iky)
