KBEONLINE.ID KABUPATEN BEKASI – Ribuan hektare lahan persawahan di lima kecamatan di Kabupaten Bekasi dipetakan sebagai wilayah paling rawan terdampak kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Untuk mengantisipasi gagal panen, petani didorong menggunakan varietas padi yang lebih tahan terhadap kekurangan air.
Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi telah melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan menjelang musim kemarau yang diprediksi segera tiba. Selain menyiapkan langkah mitigasi berupa pembenahan saluran irigasi dan penyediaan pompa air, petani juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kemarau berkepanjangan.
Ketua Tim Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Dodo Hadi Triwardoyo, mengatakan hingga saat ini belum ada laporan sawah yang mengalami kekeringan maupun puso. Meski demikian, langkah pencegahan terus dilakukan agar petani tidak mengalami kerugian akibat gagal panen.
Baca Juga:SMPN 01 Cikarang Pusat Ajarkan Murid Menjaga Ekosistem Tumbuhan Sajak Dini Bupati Karawang Aep Syaepuloh Ajak Masyarakat Jaga Nilai Keagamaan dan Keberagaman di Pawai Obor 1 Muharram
“Kendati belum ada laporan terkait kekeringan atau puso di lahan sawah, tapi kami upayakan untuk memitigasi. Mengoptimalkan upaya pencegahan agar tidak menjadi kerugian bagi petani bila sampai panennya gagal,” ujarnya.
Lima kecamatan yang menjadi perhatian utama yakni Tambelang, Sukatani, Cabangbungin, Sukawangi, dan Sukakarya. Wilayah-wilayah tersebut berada di kawasan utara Kabupaten Bekasi yang selama ini dikenal sebagai sentra produksi padi.
“Kelima titik ini yang menjadi perhatian kami. Dari hasil pemetaan, lima titik itu menjadi titik rawan,” katanya.
Dodo mengungkapkan, ancaman kekeringan bukan hal baru bagi sektor pertanian Kabupaten Bekasi. Pada 2023, dampak fenomena El Nino menyebabkan sekitar 3.618,5 hektare sawah terancam gagal panen dan meluas hingga 21 kecamatan. Sementara pada 2024, luas lahan yang terancam kekeringan meningkat menjadi 4.626 hektare yang tersebar di 99 desa pada 20 kecamatan.
Meski tidak sampai menyebabkan puso, kekurangan pasokan air saat itu berdampak pada kualitas hasil panen padi.
Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan awal tahun 2026 ketika lebih dari 6.000 hektare sawah terancam gagal panen akibat terendam banjir.
“Saat ini kami menyalurkan bantuan benih dan upaya agar sawah yang terdampak banjir masih tetap tumbuh. Sedangkan saat ini yang dihadapi kekeringan,” ucapnya.
