KBEonline.id – Bagi Anda yang sering menghabiskan waktu di arena kompetitif game multiplayer seperti Mobile Legends, Valorant, Dota 2, atau Counter-Strike, tensi tinggi dan adu argumen antar-rekan setim bukanlah hal yang asing. Kita semua tahu bagaimana rasanya ketika satu pemain melakukan blunder fatal yang berujung pada kekalahan tim. Biasanya, ruang obrolan (in-game chat) akan langsung dipenuhi oleh makian mentah. Namun, di era gaming modern, muncul sebuah fenomena komunikasi yang jauh lebih licik dan mampu merusak mental musuh maupun kawan secara perlahan: Kalimat pujian yang digunakan sebagai senjata ejekan, seperti “GG WP” (Good Game, Well Played) atau “Nice Try” (NT) yang dilemparkan di waktu yang salah.
Senjata Komunikasi Passive-Aggressive Digital
Secara harfiah, “GG WP” adalah kode etik olahraga digital untuk menunjukkan rasa hormat kepada lawan setelah pertandingan usai. Namun, dalam psikologi komunikasi siber, frasa ini telah mengalami pergeseran fungsi menjadi perilaku Passive-Aggressive (Agresif-Pasif).
Perilaku agresif-pasif terjadi ketika seseorang mengekspresikan perasaan negatif secara terselubung alih-alih menyatakannya secara terbuka. Ketika Anda melakukan blunder—misalnya tidak sengaja melepaskan ultimate skill ke arah yang kosong atau tereliminasi di detik-detik krusial—dan rekan setim Anda langsung mengetik “GG WP, core kita jago banget” di ruang obrolan saat pertandingan baru berjalan lima menit, mereka tidak sedang memuji Anda. Mereka sedang menancapkan paku sarkasme yang dibungkus dengan topeng kesopanan.
Baca Juga:The Tetris Effect: Mengapa Setelah Seharian Main Game, Matamu Masih Melihat Pola Blok Itu Saat Terpejam?The Spotlight Effect: Berhentilah Cemas, Orang Lain Tidak Memperhatikan 'Kelemahan' Kita Separah Itu
Mengapa Pujian Palsu Lebih Merusak Fokus daripada Makian?
Penelitian dalam psikologi perilaku siber menunjukkan bahwa makian atau amarah yang meledak-ledak (raging) di dalam game justru lebih mudah diantisipasi oleh otak kita. Ketika seseorang memaki secara terang-terangan, amigdala kita mendeteksinya sebagai serangan langsung, dan kita bisa dengan mudah menepisnya dengan fitur mute button karena kita tahu orang tersebut memang berniat buruk.
Sebaliknya, toxic positivity atau pujian sarkas seperti “Nice Try” yang diucapkan berulang-ulang setelah Anda kalah duel berturut-turut, menciptakan disonansi kognitif di dalam otak. Pikiran Anda dipaksa memproses kontradiksi antara kata-kata yang bernada positif dengan situasi nyata yang sedang hancur lebur. Hasilnya? Rasa frustrasi yang dihasilkan jauh lebih mendalam, merusak kepercayaan diri instan Anda, dan memicu apa yang disebut para gamer sebagai kondisi “Tilt”—keadaan frustrasi emosional yang membuat performa bermain Anda terjun bebas di sisa pertandingan.
