‎Liburan Anak, Waktu Belajar yang Berbeda

‎Dr. Nurul Fahimah, S.Pd., M.Si
‎Dr. Nurul Fahimah, S.Pd., M.Si, Dosen PIAUD Institut Agama Islam Rakeyan Santang (IRAKS). -kbeonline.id-
0 Komentar

‎Selain belajar dari pengalaman, anak juga belajar melalui interaksi sosial. Lev Vygotsky, tokoh psikologi perkembangan, menjelaskan bahwa perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan orang-orang di sekitarnya. Percakapan dengan orang tua, bermain bersama saudara, berdiskusi dengan teman, atau mendengarkan cerita dari anggota keluarga merupakan proses yang membantu anak mengembangkan bahasa, cara berpikir, dan keterampilan sosialnya.

‎Ironisnya, pada masa liburan yang seharusnya menjadi kesempatan memperkuat interaksi tersebut, tidak sedikit anak justru menghabiskan sebagian besar waktunya di depan layar gawai. Ketika gawai menjadi pengisi utama waktu liburan, kesempatan anak untuk memperoleh pengalaman langsung dan membangun interaksi sosial yang bermakna menjadi semakin berkurang.

‎Padahal yang paling dibutuhkan anak usia dini bukanlah jadwal yang semakin padat, melainkan kesempatan untuk mengalami dunia secara nyata.

Baca Juga:Update Harga Emas Antam Hari Ini 2 Juli 2026, Naik atau Turun?SPMB SMP Negeri Kabupaten Bekasi Diserbu 47.144 Pendaftar, Seleksi Bisa Dipantau Lewat HP

‎Hal lain yang sering luput dari perhatian adalah bahwa bermain merupakan bagian penting dari proses belajar anak. Dalam perspektif PAUD, bermain bukan hadiah setelah belajar. Bermain adalah cara anak belajar. Melalui bermain, anak belajar bekerja sama, menyelesaikan masalah, mengendalikan emosi, menunggu giliran, bernegosiasi, dan membangun kreativitas.

‎Ketika anak membangun istana dari balok, mereka sedang belajar konsep ruang dan keseimbangan. Ketika bermain peran menjadi dokter, pedagang, atau guru, mereka sedang mengembangkan kemampuan bahasa dan imajinasi. Ketika bermain bersama teman, mereka sedang belajar memahami sudut pandang orang lain.

‎Karena itu, tidak tepat jika bermain dianggap sebagai aktivitas yang membuang waktu selama liburan. Justru melalui bermain, anak memperoleh banyak pengalaman belajar yang sesuai dengan tahap perkembangannya.

‎Pandangan ini juga sejalan dengan Konvensi Hak Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menegaskan bahwa setiap anak memiliki hak untuk beristirahat, bermain, berekreasi, dan berpartisipasi dalam kegiatan budaya yang sesuai dengan usianya. Bermain bukan sekadar kebutuhan tambahan, melainkan bagian dari hak anak yang mendukung tumbuh kembangnya secara optimal.

‎Tentu saja, bukan berarti masa liburan harus dijalani tanpa aturan atau pendampingan. Orang tua tetap memiliki peran penting dalam menciptakan pengalaman belajar yang bermakna. Namun pendampingan tersebut tidak harus selalu berbentuk kegiatan akademik yang formal. Mengajak anak memasak bersama, membaca buku cerita, berkunjung ke taman, bercocok tanam, bersepeda, atau sekadar berbincang sebelum tidur sering kali memberikan pembelajaran yang jauh lebih bermakna.

0 Komentar