TAHUN ajaran telah berakhir. Rapor telah dibagikan. Tas sekolah mulai disimpan di sudut rumah. Bagi sebagian besar anak, inilah saat yang paling dinantikan: liburan sekolah.
Namun bagi sebagian orang tua, masa liburan sering kali menghadirkan kegelisahan tersendiri. Tidak sedikit yang mulai bertanya, “Bagaimana agar anak tetap belajar selama liburan?” Sebagian segera mendaftarkan anak ke berbagai kursus, les tambahan, atau kegiatan terstruktur lainnya. Sebagian lagi khawatir jika anak hanya bermain sepanjang hari dan melupakan apa yang telah dipelajari di sekolah.
Kekhawatiran tersebut tentu dapat dipahami. Namun bagi anak usia dini, ada satu hal penting yang sering terlupakan: liburan bukanlah masa berhenti belajar. Justru pada masa inilah anak belajar dengan cara yang berbeda.
Baca Juga:Update Harga Emas Antam Hari Ini 2 Juli 2026, Naik atau Turun?SPMB SMP Negeri Kabupaten Bekasi Diserbu 47.144 Pendaftar, Seleksi Bisa Dipantau Lewat HP
Selama ini banyak orang dewasa memaknai belajar sebagai kegiatan yang identik dengan ruang kelas, buku, lembar kerja, atau tugas-tugas akademik. Padahal bagi anak usia dini, belajar tidak selalu terjadi ketika mereka duduk mendengarkan guru. Anak belajar ketika mereka bermain, bertanya, mencoba, mengamati, menjelajah, dan mengalami kehidupan secara langsung.
Pandangan ini sejalan dengan teori perkembangan kognitif Jean Piaget yang menjelaskan bahwa anak membangun pengetahuannya melalui interaksi langsung dengan lingkungan. Anak belajar bukan karena diberi tahu, melainkan karena mengalami. Ketika anak mengamati semut yang membawa makanan, membantu ibu memasak di dapur, bermain pasir di halaman, atau mengamati hujan dari jendela rumah, sesungguhnya mereka sedang membangun pemahaman tentang dunia di sekelilingnya.
Bagi anak usia dini, pengalaman nyata sering kali menjadi guru yang lebih efektif daripada penjelasan panjang yang diberikan orang dewasa. Liburan menyediakan kesempatan yang sangat kaya untuk menghadirkan pengalaman-pengalaman tersebut. Anak dapat mengenal lingkungan sekitar, mengunjungi rumah kakek dan nenek, membantu pekerjaan sederhana di rumah, berkebun, berbelanja ke pasar, atau sekadar bermain bersama teman sebaya. Semua pengalaman itu merupakan bagian dari proses belajar yang tidak kalah penting dibandingkan pembelajaran di sekolah.
