Bagaimana Bayi Manusia Purba Bisa Bertahan Hidup? Ternyata Kuncinya Ada Tradisi Mengunyah Makanan

Bagaimana Bayi Manusia Purba Bisa Bertahan Hidup? Ternyata Kuncinya Ada Tradisi Mengunyah Makanan
Bagaimana Bayi Manusia Purba Bisa Bertahan Hidup? Ternyata Kuncinya Ada Tradisi Mengunyah Makanan
0 Komentar

Gendongan dan Naluri Diam Saat Digendong

Ketika nenek moyang manusia mulai berjalan tegak dan kehilangan sebagian besar bulu tubuhnya, bayi tidak lagi memiliki tempat untuk berpegangan seperti bayi simpanse yang mencengkeram bulu induknya. Situasi tersebut memaksa manusia purba menciptakan solusi baru berupa gendongan yang kemungkinan terbuat dari kulit hewan, dedaunan, atau serat tanaman.

Para ilmuwan juga menemukan adanya mekanisme biologis yang disebut transport response. Ketika bayi yang menangis diangkat dan dipeluk ke dada, detak jantungnya akan melambat dan napasnya menjadi lebih stabil. Respons ini diyakini merupakan warisan evolusi dari masa lampau. Bayi yang mampu tenang saat digendong memiliki peluang lebih besar untuk selamat karena tidak menarik perhatian predator di lingkungan liar.

ASI dan Tradisi Mengunyah Makanan untuk Bayi

Pada zaman purba, ASI menjadi sumber makanan paling penting bagi bayi manusia. Para ibu diketahui menyusui anak mereka dalam jangka waktu yang sangat panjang, yakni antara dua hingga empat tahun. Selain memberikan nutrisi, ASI juga mengandung antibodi yang membantu bayi bertahan dari berbagai penyakit di alam bebas.

Baca Juga:Kabar Bahagia! Tahun Depan Bupati Karawang Targetkan LKS Gratis untuk Siswa SD-SMPPerampokan Terjadi di Alfamart Depan SMAN 3 Karawang, Pelaku Terekam CCTV

Ketika bayi mulai membutuhkan makanan tambahan, manusia purba memiliki cara unik yang dikenal sebagai premastikasi. Orang dewasa akan mengunyah daging atau umbi-umbian hingga lembut, kemudian menyuapkannya langsung kepada bayi. Selain memudahkan proses makan, air liur orang dewasa juga membawa enzim pencernaan dan sel imun yang membantu kesehatan bayi. Bahkan, sejumlah antropolog menduga kebiasaan ini menjadi salah satu asal-usul perilaku berciuman pada manusia.

Peran Penting Nenek dalam Evolusi Manusia

Manusia termasuk salah satu dari sedikit spesies di dunia di mana perempuan dapat hidup puluhan tahun setelah masa reproduksinya berakhir. Fenomena ini dikenal sebagai menopause dan memunculkan teori yang disebut The Grandmother Hypothesis atau Hipotesis Nenek.

Penelitian terhadap suku Hadza di Tanzania menunjukkan bahwa para nenek bekerja keras mencari makanan, terutama umbi-umbian, untuk membantu memenuhi kebutuhan cucu-cucu mereka. Kehadiran nenek sebagai pengasuh tambahan memungkinkan seorang ibu untuk kembali hamil dan memiliki anak berikutnya tanpa harus meninggalkan anak yang masih kecil. Peran ini diyakini menjadi salah satu kunci keberhasilan manusia dalam meningkatkan jumlah populasi selama perjalanan evolusi.

0 Komentar