Suasana malam di Bukit Hyundai kala itu menyerupai pasar kuliner terbuka. Lampu-lampu tenda menyala, suara pedagang menawarkan dagangan terdengar dari berbagai sudut, dan area parkir dipenuhi kendaraan.
Bagi sebagian pelaku usaha kecil, Bukit Hyundai menjadi sumber penghidupan utama. Kehadiran ribuan pengunjung setiap pekan menciptakan perputaran ekonomi yang cukup besar dan memberikan kesempatan bagi masyarakat sekitar untuk membuka usaha.
Bangunan Kafe yang Kini Menjadi Saksi Bisu Masa Kejayaan
Di salah satu sisi bukit berdiri bangunan permanen berlantai dua yang dahulu menjadi salah satu ikon Bukit Hyundai. Bangunan semi-terbuka tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman menikmati pemandangan dari ketinggian.
Baca Juga:Alfamart dan Cussons Baby Hadirkan Layanan Posyandu di 28 Titik Selama Juli Sasar 2.800 Ibu dan AnakBegini Cara Unik Sharp Indonesia Ubah Langkah Pelari Jadi 600 Pohon untuk Selamatkan Habitat Elang Jawa
Lantai dua menjadi lokasi favorit pengunjung karena menawarkan sudut pandang yang lebih luas ke arah kawasan industri dan area penyimpanan kendaraan Hyundai. Banyak pengunjung memilih duduk di area tersebut sambil menikmati makanan dan menghabiskan waktu hingga malam hari.
Namun, nasib bangunan tersebut berubah setelah diterjang angin puting beliung. Bencana tersebut menyebabkan kerusakan cukup parah pada bagian atap dan struktur lantai atas sehingga tidak lagi dapat digunakan.
Kini, bangunan tersebut terlihat seperti saksi bisu yang mengingatkan pada masa-masa ketika Bukit Hyundai berada di puncak popularitasnya. Sebagian area bawah memang mulai diperbaiki dan dimanfaatkan kembali, tetapi kerusakan pada bagian atas masih meninggalkan kesan bahwa tempat ini belum benar-benar pulih.
Dari Tempat Viral Menjadi Kawasan yang Sepi Pengunjung
Seiring berjalannya waktu, popularitas Bukit Hyundai perlahan meredup. Tren media sosial bergeser, muncul berbagai tempat nongkrong baru, dan perhatian masyarakat mulai beralih ke destinasi lain.
Perubahan itu berdampak besar terhadap kondisi Bukit Hyundai. Jika dahulu kendaraan pengunjung memenuhi area parkir hingga menyebabkan kemacetan, kini lahan yang sama sering terlihat kosong.
Pada sore akhir pekan yang dahulu menjadi waktu tersibuk, suasana kini terasa jauh lebih tenang. Hanya beberapa pengunjung yang datang untuk menikmati pemandangan atau sekadar membeli makanan dari pedagang yang masih bertahan.
Sepinya pengunjung juga membuat banyak pelaku usaha memilih menutup lapaknya. Deretan warung yang dahulu ramai kini sebagian besar sudah tidak lagi beroperasi.
