Dorong UMKM Kerupuk Kulit Cilamaya Naik Kelas, Dosen UNSIKA Hadirkan Teknologi Pengering Berbasis Energi Surya

‎Tim PKM UNSIKA
‎Tim PKM UNSIKA menghadirkan teknologi pengering berbasis energi surya untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing UMKM kerupuk kulit ikan patin di Desa Cilamaya, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang. (kbeonline.id)
0 Komentar

‎‎Ketergantungan yang tinggi pada cuaca membuat kapasitas produksi sulit untuk ditingkatkan. Selain membutuhkan waktu relatif lama, penjemuran terbuka juga berisiko terkontaminasi debu, serangga, serta kondisi lingkungan lainnya.

‎‎Tim PKM UNSIKA melihat persoalan tersebut bukan hanya sebagai masalah teknis, tetapi sebagai hambatan bagi peningkatan produktivitas dan daya saing UMKM. Solusi yang diterapkan bukan meninggalkan energi matahari, melainkan memanfaatkannya dengan lebih efektif melalui teknologi pengering berbasis panel surya.‎

‎Tim mengembangkan sistem solar-assisted drying cabinet, yaitu pengering berbentuk kabinet tertutup dengan sistem sirkulasi udara yang dirancang untuk membantu proses pengeringan berlangsung lebih cepat, merata, dan higienis. Energi matahari ditangkap melalui panel surya dan dimanfaatkan untuk mendukung kerja sistem pengering.

Baca Juga:Kenapa Anabul Tidak Mau Makan? Ketahui Penyebab dan Cara MengatasinyaUpdate Terbaru Harga Emas Antam Hari Ini: Naik Lagi Jadi Rp 2.768.000 per gram

‎‎Dengan konsep tersebut, proses produksi tidak lagi sepenuhnya bergantung pada penjemuran terbuka. Bagi pelaku UMKM, teknologi ini diharapkan dapat memperpendek siklus produksi sekaligus membuat proses pengeringan lebih terencana.

‎‎“Kami ingin energi matahari yang selama ini sudah dimanfaatkan masyarakat secara konvensional dapat digunakan dengan cara yang lebih efektif. Teknologi harus mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat dan mudah digunakan oleh mitra,” ucap Reni.‎

‎Pendekatan tim PKM UNSIKA, lanjut Reni, tidak berhenti pada pembuatan dan pemasangan alat. Mitra juga mendapatkan pelatihan mengenai pengoperasian dan perawatan pengering, sehingga teknologi tersebut dapat dikelola secara mandiri setelah program selesai.

‎‎”Tim menargetkan setidaknya 80 persen anggota mitra mampu mengoperasikan alat secara mandiri,” katanya. (*)

0 Komentar