Mengenal Lebih Dekat Setu : Ternyata Bekasi Punya Gunung, Jalur Adem, Kebun Bambu hingga Kampung Tersembunyi

Ternyata di Kecamatan Setu ada Gunung.
Ternyata di Kecamatan Setu ada Gunung.
0 Komentar

Pepohonan bambu membuat beberapa bagian jalan seperti memiliki kanopi alami. Ditambah lingkungan persawahan dan kebun warga, jalur ini cocok untuk sekadar berkendara santai, bersepeda atau mencari udara segar pada sore hari.

Bahkan, perjalanan santai di jalur kampung seperti ini bisa memberikan pengalaman berbeda. Tidak perlu tempat wisata mahal. Cukup motoran pelan, menikmati pemandangan, dan sesekali berhenti untuk melihat suasana sekitar.

Tetapi tetap perlu hati-hati. Saat menyusuri jalan kebun bambu, pengendara sempat dibuat kaget karena ada seekor ular yang melintas di tepi jalan. Artinya, kawasan yang masih asri memang memiliki kehidupan alam yang masih cukup terasa.

Baca Juga:Belum Banyak yang Tahu? di Cibubur Jakarta Bisa Makan di Bawah Pohon Sambil Nikmati Suasana NdesoBerburu Durian Lokal di Kaki Gunung Batu Jonggol, Harganya Murah Meriah Hanya Rp30 Ribuan Bisa Dapat 3 Buah

Setu Bukan Cuma Industri dan Perumahan

Kalau selama ini Setu hanya dianggap sebagai kawasan industri dan perumahan, perjalanan seperti ini membuktikan bahwa anggapan tersebut belum sepenuhnya menggambarkan wajah wilayah ini.

Di balik jalan utama yang padat, masih terdapat kampung-kampung dengan kebun bambu, persawahan dan pepohonan rindang. Kawasan seperti Cikarageman dan Taman Rahayu menjadi contoh bagaimana suasana pedesaan masih bertahan di tengah perkembangan wilayah.

Tidak heran jika jalur-jalur seperti ini juga menarik bagi pesepeda maupun pengendara motor yang sekadar ingin mencari rute santai. Pemandangannya tidak selalu spektakuler, tetapi justru kesederhanaan kampungnya yang membuat perjalanan terasa menyenangkan.

Tempa Nongkrong di Setu

Selain jalur pedesaan, perkembangan Setu juga terlihat dari semakin banyaknya tempat makan dan tempat berkumpul keluarga. Di kawasan Setu hingga perbatasan Cileungsi dan Cibubur, mulai bermunculan restoran dan kafe yang mengusung konsep alam.

Ada tempat makan dengan suasana pepohonan rindang, bangunan joglo, area outdoor, hingga fasilitas untuk anak-anak. Konsep seperti ini cocok untuk keluarga yang ingin makan sekaligus mencari suasana santai tanpa harus pergi terlalu jauh.

Di sisi lain, warung-warung lokal dan jajanan pasar juga masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Jadi, menjelajahi Setu tidak selalu harus berakhir di restoran modern. Berhenti di warung kampung, menikmati kopi atau jajanan sederhana juga bisa menjadi bagian dari pengalaman.

Berakhir di Pasar Kojengkang

0 Komentar