KBEONLINE.ID KARAWANG – Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FKIP Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) menggelar Seminar Nasional SINAR BASTRA bertema “Transformasi Pembelajaran Sastra melalui Pendekatan Deep Learning dengan Implementasi Kurikulum Merdeka”, di Aula Syech Quro Unsika, Sabtu (5/9/2026).
Seminar digelar secara hibrida dengan menghadirkan tiga akademisi sebagai pemateri, yakni Prof. Dr. Petrus Poerwadi, M.S. dari Universitas Palangka Raya, Dr. Esti Swatika Sari, M.Hum. dari Universitas Negeri Yogyakarta, dan Dr. Sutri, M.Pd. dari Unsika.
Kegiatan tersebut membahas perkembangan pembelajaran sastra dan penerapan pendekatan deep learning agar proses belajar tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi mampu menghubungkan karya sastra dengan pengalaman serta kehidupan peserta didik.
Baca Juga:Pantai Pasir Putih Panjibuwono Babelan Bekasi : Sensasi Wisata Murah Liburan di Tepi PantaiForum Kewaspadaan Dini Masyarakat Kabupaten Bekasi Diminta Jadi Mata dan Telinga Pemerintah
Ketua pelaksana sekaligus pemateri, Dr. Sutri, M.Pd., mengatakan sastra memiliki peran penting dalam memperluas pemahaman emosi dan kehidupan sosial.
“Sastra bukan hanya cerita fiktif, karena sastra tidak lahir dari kekosongan budaya, melainkan merupakan cerminan dari realitas masyarakat,” ujar Sutri.
Menurutnya, pendekatan deep learning dapat diterapkan melalui pemilihan materi dan media yang sesuai dengan minat peserta didik. Dengan demikian, pembelajaran sastra diharapkan lebih dekat dengan kehidupan dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna.
Sementara itu, Koordinator Program Studi PBSI Unsika, Dr. Suntoko, M.Pd., mengatakan seminar tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan Universitas Palangka Raya dan Universitas Negeri Yogyakarta.
Menurutnya, kolaborasi antarkampus penting untuk memperluas perspektif akademik mahasiswa dan dosen di tengah perkembangan dunia pendidikan yang terus berubah.
“Ilmu pengetahuan terus berubah, bertambah, dan berkembang setiap tahun. Karena itu, kita perlu terus mengasah kemampuan untuk mengikuti perkembangan tersebut. Salah satunya melalui seminar, karena kita bisa saling bertukar ilmu dan mendapatkan wawasan baru,” katanya.
Peserta seminar, Sarah, mengaku mendapat perspektif baru terkait penerapan deep learning dalam pembelajaran sastra. Menurutnya, pendekatan tersebut tidak hanya menekankan pemahaman terhadap karya, tetapi juga bagaimana membangun pengalaman belajar yang mampu meningkatkan minat baca.
Baca Juga:5 Aset Ini yang Wajib Anda Punya Sebelum Umur 40 Tidak Hanya Uang Tapi Bekal Agar Tak Sengsara di Hari TuaDibalik Megahnya Kota Industri Cikarang : Ternyata Masih Ada Kampung Sunda yang Bertahan
“Deep learning dalam pembelajaran sastra bukan hanya tentang memahami karya secara lebih mendalam, tetapi juga bagaimana menemukan cara agar pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi peserta didik,” ujarnya.
