PETAMBAK GARAM : Para petambak garam di Cilamaya enggan produksi karena harga yang murah.

Gara-Gara Impor, Harganya Garam Anjlok jadi Rp 300 Per Kilo

Produktivitas petambak garam di pesisir Karawang turun drastis. Hal itu terjadi, karena tak sedikit dari mereka yang memutuskan untuk alih profesi. Sebagain menjadi petani dan sebagiannya lagi menjadi pembudi daya. 

Turunnya produktivitas garam terjadi, diketahui karena harganya yang terus-terusan anjlok. Tahun 2019 lalu, tiga kecamatan penghasil garam di Karawang. Yaitu, Kecamatan Tempuran, Cilamaya Wetan, dan Cilamaya Kulon. Bisa memproduksi lebih dari 16 ribu ton dalan kurun waktu satu tahun panen. 

Namun saat ini, dengan harga jual yang hanya Rp. 300 per kilogram. Atau Rp. 30.000 per ton. Para petambak pun mulai ogah-ogahan produksi garam. 

Hal itu di perparah, karena pada tahun 2020 lalu. Pemerintah melakukan impor garam sebanyak 2,7 juta ton. Apa lagi, di tahun 2021 ini. Pemerintah berencana memperbanyak impor garam menjadi 3,07 juta ton.

“Padahal produksi garam lokal ini sangat memadai untuk mencukupi kebutuhan nasional. Asal pemerintahnya mau perhatian sama para petambak,” ujar Ketua Koperasi Garam Segara Jaya, Aep Suhardi, kepada KBE, Rabu, (7/4/2021) kemarin.

Aep bilang, para petambak garam di Karawang saat ini menjadi enggan untuk berproduksi. Pasalnya, hasil panen garam jika di jual tidak bisa menutupi modal produksi.

“Bayangkan saja, harganya cuma Rp. 300 perak per kilogram. Bukannya untung, malah buntung,” ujar Aep.

Kata dia, karena harga jual garam yang belum stabil. Banyak para petambak yang akhirnya beralih profesi. Ada yang mengubah lahan tambaknya menjadi kebun atau sawah. Ada juga yang menjadikannya empang untuk budi daya.

“Cara itu dilakukan demi tetap menyambung hidup. Kalau begini terus, lama-lama bisa habis tambak garam di Karawang,” sesalnya. 

Masih kata Aep, sebagai ketua koperasi garam terbesar yang ada di Karawang. Pihaknya mengaku tengah berupaya untuk menyelamatkan nasib para petambak garam. Ditengah gempuran impor garam dari luar negeri.

Salah satu cara yang saat ini sedang di tempuh, yaitu meningkatkan baku mutu dan kualitas garam rakyat. Diketahui, selama ini petambak garam di Cilamaya hanya menjual garam krosok atau garam rakyat.

Dengan bantuan pelatihan dan alat dari berbagai instansi yang saat ini sudah mereka miliki. Rencananya, mulai tahun 2021 ini. Para petambak garam akan mulai memproduksi garam iodium dan garam industri.

“Alhamdulillah sekarang ada harapan. Kita sudah di latih dan di bantu alat oleh Dinas Koperasi Karawang. Untuk kemudian bisa memproduksi garam industri,” ujarnya.

Aep menjelaskan, harga garam krosok dengan garam iodium atau pun garam industri sangat berbeda jauh. Jika garam krosok di hargai Rp. 300 per kilogram. Untuk garam iodium atau garam konsumsi, bisa dijual dengan harga Rp. 3.500 per kilogram.

“Kalau garap industri sekarang harganya Rp. 2.500 per kilogram. Biasanya, kalau masuk industri kebutuhan garam sangat banyak,” katanya.

Petambak garam asal Desa Ciparagejaya, Kecamatan Tempuran ini berharap, dengan produksi garam industri. Pasar garam dan produksi garam di Karawang bisa kembali normal seperti dulu. 

Sehingga, kesejahteraan para petambak garam pun ikut terdongkrak. Apa lagi, kata dia, saat ini sudah ada campur tangan Pemda Karawang melalui Dinas Koperasi dan UKM Karawang. Dalam program One Village One Product.

“Karena produk andalan pesisir adalah garam. Kami berharap, pasar untuk garam lokal bisa diperbesar. Untuk kesejahteraan para petambak garam lokal,” tutupnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here