Memang pernah, ia diangkat jadi adipati dalam wilayah kekuasaan Kurawa.
Memang pernah, Kunti Nalibrata, ibu para Pandawa, mengaku bahwa Karna adalah anaknya yang dulu ia buang karena ia tak berani hidup dengan bayi yang ayahnya tak jelas.
Tapi nasib sudah mencengkeram: ia, Karna, senantiasa berada di luar, sejak lahir sampai dengan mati.
Tapi Mahabharata tak menghukumnya. Para dalang tak melukiskan Karna sebagai tokoh yang jelek.
Baca Juga:Ibu- ibu Jangan Panik, Inilah Solusi Nutrisi Saat Si Kecil Alergi Susu SapiSosok Dini Sera Afrianti, Seleb Tiktok Korban Kekejaman Kekasih
Dalam sebuah cerita yang membuka keragaman yang demikian besar, Karna bisa membuat kita lebih mengerti tentang manusia.
Kita bisa mengerti bahwa orang lain tak pernah bisa kita rumuskan kecuali dengan kebencian dan dendam.
Sesuatu yang mutlak berbeda tak dapat disebut berbeda, karena tak dapat dibandingkan.
Itulah yang membuat manusia bisa merasakan orang lain yang juga bisa disebut sesama.
Ribuan tahun setelah babad itu, haruskah kita masih menggugat ‘yang lain’ dengan kebencian identitas?