KBEONLINE.ID – Pendidikan keuangan anak ternyata tidak dimulai dari nasihat panjang atau teori rumit. Justru, anak belajar paling banyak dari apa yang mereka lihat setiap hari di rumah. Cara orang tua berbelanja, menunda keinginan, hingga berbicara soal uang, perlahan membentuk cara pandang anak terhadap nilai dan tanggung jawab finansial.
Anak cenderung meniru sebelum mendengar. Ketika orang tua membandingkan harga, membawa daftar belanja, atau memilih menunda membeli barang yang belum perlu, anak belajar bahwa uang memiliki batas dan harus diprioritaskan. Kebiasaan sederhana seperti mengatakan “cukup” saat belanja atau menabung meski jumlahnya kecil, menjadi pelajaran nyata tentang pengendalian diri dan konsistensi.
Menunggu juga menjadi bagian penting. Mengajak anak menunda membeli sesuatu, meski hanya sehari, melatih kesabaran dan kemampuan mengelola keinginan. Begitu pula ketika orang tua menjelaskan “belum sekarang” tanpa emosi, anak belajar bahwa keputusan finansial tidak selalu mengikuti keinginan sesaat.
Baca Juga:Persib Bandung Harus Waspada, Juara Paruh Musim Tak Selalu Juara Liga: Ini Fakta dan DatanyaPersib Sudah Temukan Pengganti Barba, Mantan Bintang PSG Siap ke Bandung
Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua juga bisa melibatkan anak dalam hal kecil, seperti menghitung kembalian, membagi uang ke beberapa pos, atau menyebutkan rencana sederhana sebelum membeli sesuatu. Dari situ, anak mulai memahami konsep tujuan, struktur, dan tanggung jawab atas uang yang dimiliki.
Cara orang tua bersikap saat terjadi kesalahan juga tak kalah penting. Mengakui salah beli dan menjadikannya bahan refleksi mengajarkan bahwa kesalahan finansial adalah hal yang bisa dipelajari, bukan untuk dimarahi. Sikap tenang saat membahas uang membantu anak melihat uang sebagai alat, bukan sumber stres.
Konsistensi menjadi kunci utama. Rutinitas kecil yang dilakukan berulang kali jauh lebih membekas dibandingkan nasihat sesekali. Anak pun perlahan memahami bahwa uang berasal dari kerja, bukan sekadar dari ATM, dan harus dikelola dengan bijak.
Pada akhirnya, pendidikan keuangan di keluarga bukan soal nominal besar, melainkan contoh kecil yang terus dilakukan. Dari situlah memori jangka panjang terbentuk, dan anak tumbuh dengan sikap sehat terhadap uang.
