KBEONLINE.ID KARAWANG – Dampak eskalasi konflik antarnegara Iran-Israel mulai dirasakan oleh sektor perjalanan ibadah umrah, khususnya bagi jamaah Indonesia yang menggunakan penerbangan transit. Sejumlah penerbangan mengalami penundaan bahkan pembatalan karena wilayah udara di beberapa kawasan terdampak konflik. Kondisi ini menyebabkan sebagian jamaah tertahan dan belum dapat kembali ke Tanah Air.
Wakil Ketua Asosiasi Kebersamaan Pengusaha Travel Haji dan Umrah (BERSATHU) sekaligus pemilik Sanema Haji & Umroh, Rafiudin Firdaus, menyampaikan bahwa situasi tersebut memberikan dampak nyata bagi jamaah maupun penyelenggara perjalanan ibadah umrah. Ia berharap konflik yang terjadi dapat segera mereda agar aktivitas penerbangan kembali normal.
Menurutnya, saat ini beberapa jamaah yang telah menyelesaikan rangkaian ibadah umrah masih menunggu kepastian jadwal kepulangan. Penundaan penerbangan terjadi karena sejumlah maskapai tidak dapat melintasi wilayah yang terdampak konflik.
Baca Juga:Perang Iran–Israel Memanas! Nasib 7.000 Industri di Bekasi Ikut TerancamSituasi Timur Tengah Belum Aman, Jemaah Umrah Bekasi Diimbau Tunda Keberangkatan
“Kami berharap ada komunikasi yang lebih intens antara pemerintah dan pihak terkait agar jamaah yang masih berada di sana bisa segera dipulangkan,” ujarnya, Kamis (5/3).
Ia menambahkan, pemerintah Indonesia dinilai telah menunjukkan kehadirannya dengan terus memantau kondisi jamaah di Arab Saudi. Para jamaah yang tertunda kepulangannya masih mendapatkan fasilitas penginapan dan konsumsi selama menunggu jadwal penerbangan yang memungkinkan.
Namun demikian, persoalan lain juga mulai muncul, terutama bagi jamaah yang dijadwalkan berangkat dalam waktu dekat. Para penyelenggara perjalanan umrah telah mempersiapkan berbagai kebutuhan seperti tiket pesawat, akomodasi hotel, transportasi darat, hingga visa.
“Semua komponen perjalanan itu sudah kami bayarkan sebelumnya. Jika keberangkatan harus ditunda atau dibatalkan, tentu harus ada solusi agar biaya yang sudah dikeluarkan tidak hangus,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa satu kelompok jamaah biasanya terdiri dari sekitar 30 orang. Dengan biaya paket rata-rata sekitar Rp30 juta per orang, maka total dana yang harus disiapkan oleh satu biro perjalanan bisa mencapai sekitar Rp1 miliar lebih.
“Bayangkan jika satu travel memiliki dua hingga tiga grup keberangkatan. Nilainya sangat besar dan ini berpotensi mengganggu arus kas perusahaan jika tidak ada kepastian hukum,” jelasnya.
