KBEonline.id – Antusiasme luar biasa masyarakat dalam merayakan Milangkala Tatar Sunda bertajuk “Nyuhun Buhun, Nata Nagara” di Alun-alun Karawang berujung dramatis. Akibat kepadatan massa yang luar biasa pada Sabtu (9/5) malam, puluhan warga dilaporkan pingsan akibat berdesak-desakan.
Ribuan warga terpantau memadati area Alun-alun hingga meluber ke jalan-jalan utama. Kondisi ini memicu kepanikan saat belasan orang mulai tumbang satu per satu akibat kelelahan dan sesak napas saat prosesi inti dan kirab budaya berlangsung.
Hingga pukul 21.00 WIB, tercatat lebih dari 10 warga harus mendapatkan penanganan medis darurat di lokasi.
Baca Juga:UNGKAP Misteri Kematian Balita Cibuaya, Polisi Bongkar Makam Usai Keluarga Ungkap KetidakwajaranAwan Hitam Pekat di Langit Rengasdengklok, Gudang Limbah Berbahaya di Kalangsari Terbakar
Petugas kesehatan di lapangan bergerak cepat mengevakuasi korban yang kehilangan kesadaran dari tengah kerumunan massa menggunakan ambulans roda dua dan roda empat.
Beberapa warga yang kondisinya cukup parah langsung dilarikan ke rumah sakit dan klinik terdekat untuk mendapatkan perawatan intensif.
“Kami bergerak cepat memberikan pertolongan pertama di lokasi. Beberapa warga yang mengalami sesak napas berat langsung dievakuasi ke pos kesehatan dan sebagian dirujuk ke rumah sakit pendukung untuk penanganan lebih lanjut,” ujar salah satu petugas kesehatan, Sabtu (9/5).
Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kabupaten Karawang melalui Dinas Kesehatan sebenarnya telah menyiagakan pengamanan medis yang ketat. Terdapat tujuh titik pos kesehatan strategis, mulai dari area Stasiun hingga Toko Susu 98, yang didukung oleh 53 petugas medis serta 14 unit ambulans.
Selain itu, tujuh rumah sakit besar di Karawang, termasuk RSUD Karawang, RS Dewi Sri, dan RS Bayukarta, telah disiagakan sebagai rujukan utama jika terjadi kondisi darurat yang tidak terduga selama acara berlangsung.
Meski diwarnai insiden warga yang pingsan, rangkaian acara kebudayaan ini tetap berjalan hingga usai. Warga tetap bertahan di lokasi demi menyaksikan prosesi budaya yang dianggap sakral tersebut, meski harus berhimpitan di tengah ribuan penonton lainnya.(aufa)
