KBEonline.id – Di sebuah sudut workshop Batik Putri Sanggabuana, aroma khas malam yang dipanaskan menyeruak lembut, menyambut siapa saja yang datang. Bagi Herry Daryanto, sang pemilik sekaligus pelestari, aroma ini bukan sekadar bau lilin biasa, melainkan identitas budaya yang kini tengah berjuang melawan gempuran tekstil bermotif batik hasil pabrikan.
Herry memulai kisahnya dengan sebuah keprihatinan mendalam. Ia menyadari bahwa lebih dari 90 persen masyarakat saat ini belum mampu membedakan mana batik tradisional yang otentik dan mana kain tekstil yang sekadar memiliki motif batik. Baginya, edukasi adalah fondasi utama agar warisan leluhur ini tidak hanya menjadi pajangan sejarah, tetapi tetap hidup dalam keseharian.
“Batik tradisional itu prosesnya menggunakan media malam sebagai perintang warna. Di luar itu, masuk kategori kain bermotif batik atau cetak. Itu sama sekali tidak memerlukan keterampilan seni,” ujar Herry.
Baca Juga:KABAR BAIK, RSUD Rengasdengklok Resmi Layani Pasien BPJS Kesehatan Mulai Senin 10 Mei 2026Bupati Aep Satria Sunda dari Karawang, Tekankan Makna Kasih Sayang bagi Masyarakat di Kirab Mahkota Binokasih
Menurut Herry, membatik adalah sebuah proses pembentukan karakter atau character building. Ia mengibaratkan proses mencanting seperti meniti kesabaran dan ketelitian. Seseorang yang memiliki sifat temperamental tidak akan pernah bisa menghasilkan selembar kain batik yang indah, karena setiap goresan malam menuntut ketenangan jiwa.
Perjalanan workshop Putri Sanggabuana sendiri tidaklah selalu mulus. Herry mengenang masa sulit saat pandemi Covid-19 melanda, di mana ia terpaksa meliburkan karyawannya karena kendala biaya operasional. Namun, semangatnya tidak padam; tempat ini tetap ia buka untuk kepentingan edukasi bagi mahasiswa yang melakukan penelitian, mulai dari jenjang strata satu hingga disertasi doktor.
Filosofi menjadi ruh utama dalam setiap lembar kain yang dihasilkan di sini. Salah satu motif kebanggaan yang sering ia tonjolkan adalah “Padi Gendang”. Motif ini bukan sekadar gambar, melainkan representasi sejarah Karawang sebagai lumbung pangan nasional yang memiliki kekayaan seni gerak yang dinamis.
“Gendang itu adalah ruhnya penari. Saat gendang dipukul energik, penarinya akan bergerak kuat. Karawang adalah lumbung pangan sekaligus daerah yang kaya akan budaya. Itulah yang saya tuangkan dalam motif Padi Gendang,” jelasnya.
Herry juga menyinggung tentang pergeseran tren mode batik di kalangan generasi muda saat ini. Ia mengaku tidak alergi melihat anak muda memadukan atasan batik dengan celana jeans sobek dan sepatu kets.
