Baginya, fenomena ini justru merupakan ceruk peluang pasar yang luas asalkan mereka tetap paham nilai filosofis di balik kain yang mereka kenakan.
Namun, tantangan terbesar yang dihadapi Herry saat ini adalah regenerasi pengrajin. Ia mencatat, meski ribuan orang telah belajar di workshop-nya, baru sekitar tujuh orang yang benar-benar konsisten menjadi pengrajin.
Hal ini disebabkan oleh tingginya modal awal, seperti harga satu canting cap yang bisa mencapai jutaan rupiah.
Baca Juga:KABAR BAIK, RSUD Rengasdengklok Resmi Layani Pasien BPJS Kesehatan Mulai Senin 10 Mei 2026Bupati Aep Satria Sunda dari Karawang, Tekankan Makna Kasih Sayang bagi Masyarakat di Kirab Mahkota Binokasih
Untuk menyiasati kendala tersebut, Herry membuka pintu workshop-nya lebar-lebar bagi siapa saja yang memiliki keahlian namun terbatas modal.
Ia menyediakan peralatan, tempat, hingga sistem pengolahan limbah (IPAL) secara cuma-cuma agar para pengrajin binaannya bisa terus berproduksi secara bergantian tanpa terbebani biaya investasi alat.
Prestasi pun mulai mengikuti ketulusan misinya. Salah satu desainer binaannya, Anggraeni Septia, telah membawa batik hasil kolaborasi mereka ke panggung internasional di Turki, Jepang, hingga Thailand.
Hal ini membuktikan bahwa batik Karawang memiliki daya saing global jika dikelola dengan sentuhan desain yang tepat.
Herry juga sangat teliti dalam memantau tren warna global setiap tahunnya, terutama saat hendak merambah pasar internasional.
Ia sering berdiskusi mengenai warna keberuntungan atau tren warna di negara tujuan agar batik yang dikirimkan tidak menabrak aturan budaya setempat, seperti tradisi shio di negeri tirai bambu.
“Batik adalah warisan budaya tak benda menurut UNESCO. Artinya, yang diwariskan bukan sekadar kainnya, melainkan tradisi dan keahliannya. Jika pengrajinnya hilang, maka status warisan budaya kita pun terancam digeser negara lain,” ungkap Herry memperingatkan.
Baca Juga:Berdesakan dan Sesak, Puluhan Pengunjung Milangkala Tatar Sunda di Karawang Pingsan, Ada yang KerasukanUNGKAP Misteri Kematian Balita Cibuaya, Polisi Bongkar Makam Usai Keluarga Ungkap Ketidakwajaran
Kepada para pengunjung, Herry sering memberikan tips sederhana untuk mengenali keaslian batik.
Ia menyarankan untuk mencium aroma kainnya; jika aroma malam masih terendus dan terdapat ketidaksempurnaan motif yang khas buatan tangan, maka itulah batik tradisional yang sesungguhnya.
Baginya, membeli selembar batik tulis atau cap tradisional bukan sekadar transaksi jual beli materi.
Pembeli sejatinya sedang memberikan apresiasi tinggi terhadap proses panjang, waktu, dan keringat sang pengrajin yang menuangkan ide serta doa di atas kain mori.
