Sayangnya, kekuatan itu seperti tenggelam karena satu masalah besar: desain. Tampilan Spacy dianggap terlalu membulat, terlalu gemuk, dan kurang menarik bagi selera konsumen Indonesia yang cenderung menyukai motor dengan garis sporty atau agresif. Ketika kompetitor tampil lebih tajam dan modern, Spacy justru hadir dengan bentuk yang dianggap terlalu sederhana bahkan membosankan.
Selain desain, performanya juga sering dikritik. Tarikan gas terasa lambat dan tidak terlalu responsif untuk kebutuhan stop and go di perkotaan. Handling motor juga terasa kurang lincah saat harus bermanuver di jalan padat. Akibatnya, motor ini sulit bersaing dan akhirnya tidak bertahan lama di pasar. Saat ini, pengguna motor bekas Spacy juga mulai menghadapi tantangan mencari spare part bodi tertentu karena populasinya yang semakin sedikit.
Honda Supra GTR 150: Mesin Kencang, Tapi Sulit Merebut Hati Pasar
Saat Honda meluncurkan Supra GTR 150, ekspektasi pasar sebenarnya cukup tinggi. Motor ini datang membawa mesin DOHC 150 cc enam percepatan yang di atas kertas terlihat menjanjikan. Banyak orang berharap Supra GTR mampu menjadi lawan serius motor bebek sport yang saat itu sedang naik daun di kalangan anak muda maupun pecinta touring. Honda juga mencoba membangun citra bahwa motor ini tidak hanya cepat, tetapi juga nyaman dipakai perjalanan jauh.
Baca Juga:Gaji Rp10 Juta di Tahun 2026 Kok Terasa Kecil? Ternyata Bukan Sekadar PerasaanSebelum El Nino Datang, Begini Cara Pemkab Karawang Antisipasi Kekeringan di Ribuan Hektare Sawah
Namun di lapangan, realitanya tidak semanis ekspektasi awal. Salah satu kritik terbesar datang dari sisi desain yang dianggap terlalu tanggung. Sebagai motor sport bebek, tampilannya dinilai kurang agresif dan masih terlalu “kalem”. Banyak orang merasa aura sporty yang dibawa kurang keluar, bahkan masih menyisakan kesan motor bebek harian biasa. Hal ini membuat motor tersebut kalah menarik perhatian dibanding rival yang tampil lebih tajam dan terasa lebih muda secara visual.
Dari sisi performa, Supra GTR memang punya tenaga besar di putaran atas, tetapi justru terasa kurang menyenangkan untuk penggunaan harian. Tarikan awal motor dinilai kurang responsif sehingga ketika dipakai di jalan perkotaan dengan kondisi stop and go, sensasinya terasa kurang spontan. Ditambah lagi, harga jual bekasnya cenderung turun cukup jauh, membuat sebagian pengguna merasa motor ini kurang menarik secara nilai investasi jangka panjang.
