‎Sekolah dalam Genggaman: Saat Komunikasi Digital Mengikis Kedekatan Emosional

Dosen Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Institut Agama Islam Rakeyan Santang (IRAKS), Gina Kania S.Pd M.I.Kom
Dosen Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Institut Agama Islam Rakeyan Santang (IRAKS), Gina Kania S.Pd., M.I.Kom
0 Komentar

‎DAHULU lorong sekolah adalah saksi bisu bagi tawa renyah para murid, bisik-bisik rahasia di balik buku hingga diskusi hangat antara guru dan murid di bawah pohon rindang. Namun hari ini, pemandangan itu perlahan bergeser. Wajah-wajah yang seharusnya saling menatap kini tertunduk, terpaku pada layar persegi di tangan. Kita sedang memasuki era “Sekolah dalam Genggaman,” sebuah paradoks di mana konektivitas berada di puncak tertinggi, namun kedekatan emosional justru berada di titik nadir.

‎ Efisiensi yang Menghapus Esensi

‎Tidak dapat dipungkiri bahwa digitalisasi membawa kemudahan luar biasa. Grup WhatsApp kelas, portal nilai online, hingga penugasan via Google Classroom membuat birokrasi pendidikan menjadi ringkas. Namun, di balik kecepatan itu ada hal yang hilang yaitu humanitas dalam interaksi. Instruksi guru yang dikirim lewat teks seringkali kehilangan nada suara dan empati. Teguran di layar terasa lebih dingin, sementara pujian lewat emoji terasa kurang bermakna dibandingkan tepukan di bahu atau senyum bangga yang tulus. Selain itu terdapat ruang diskusi yang bersifat mekanis, artinya bahwa ruang diskusi ini terjadi di kolom komentar yang seringkali hanya menjadi penggugur kewajiban formalitas. Siswa cenderung mengetik apa yang ingin didengar sistem, bukan apa yang mereka rasakan atau pikirkan secara mendalam.

‎Sekolah bukan sekadar pabrik nilai, melainkan laboratorium sosial. Ketika komunikasi digital mendominasi, sekolah kehilangan fungsinya sebagai “rumah kedua. Kurangnya kepekaan sosial terhadap konflik terjadi di media sosial atau grup obrolan, penyelesaiannya seringkali melalui blokir atau sindiran status. Siswa kehilangan kesempatan untuk belajar resolusi konflik secara langsung melalui seni membaca bahasa tubuh, mengelola emosi di depan lawan bicara, dan belajar memaafkan dalam sebuah jabat tangan. Kedekatan emosional antara guru dan murid adalah kunci pendidikan karakter. Jika komunikasi hanya sebatas pengiriman file dan pengumuman teknis, guru perlahan berubah dari sosok mentor yang menginspirasi menjadi sekadar “operator konten”. Teknologi adalah pelayan yang baik, tetapi tuan yang buruk. Dalam pendidikan, ia seharusnya menyambungkan yang jauh bukan menjauhkan yang dekat. Lantas, apakah kita harus membuang gawai dan kembali ke era kertas? Tentu tidak. Tantangannya adalah bagaimana menjaga agar teknologi tetap menjadi alat, bukan pengganti kehadiran manusia.

0 Komentar