Anjlok Lagi! Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar Hari Ini Tembus Rp18.030

Dolar AS ke Rupiah
Anjlok Lagi! Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar Hari Ini Tebus Rp18.030. (tangkapan layar/google)
0 Komentar

2. Ancaman PHK di Sektor Manufaktur

Bagi sektor manufaktur yang bergantung pada komponen dan bahan baku impor, jika ongkos produksi meningkat drastis akibat nilai dolar yang melonjak.

Sementara daya beli masyarakat dalam negeri sedang menurun maka berpotensi mengurangi keuntungan perusahaan.

Untuk mempertahankan bisnis, manajemen dapat melakukan efisiensi ketat, langkah yang berpotensi menjadi ancaman bagi karyawan adalah pemotongan intensif hingga pemutusan hubungan kerja atau (PKH).

3. Biaya Transportasi Meningkat

Baca Juga:Dorong UMKM Karawang Kompetitif, Prodi MBS Institut Agama Islam Rakeyan Santang (IRAKS) Gelar Seminar NasionalPuluhan Kru Sisingaan Masih Tertahan di Kantor Polisi: "Saya Pengin Pulang, Anak-Cucu Nungguin"

Selanjutnya, efek domino juga akan terjadi pada kebutuhan biaya transportasi di Indonesia.

Meski pemerintah memberikan subsidi bahan bakar minyak (BBM), suku cadangan kendaraan seperti ban hingga pelumas sabagian masih besar memiliki kandungan impor dengan harga yang mengacu pada pasar global.

Jika biaya perawatan transportasi umum meningkat, maka biaya tersebut juga berdampak pada konsumen baik penumpang atau pembeli.

4. Daya Beli Melemah

Kelompok masyarakat berpenghasilan rendah umumnya menggantungkan mata pencaharian pada sektor informal, seperti pedagang kaki lima, asisten rumah tangga, buruh harian, hingga pedagang keliling.

Meski sering dianggap terpisah, keberlangsungan sektor ini sangat bergantung pada aktivitas ekonomi dan tingkat konsumsi masyarakat kelas menengah serta kelompok berpenghasilan lebih tinggi.

Ketika nilai tukar dolar AS menguat dan tekanan inflasi meningkat, masyarakat kelas menengah biasanya mulai melakukan penyesuaian pengeluaran.

Mereka cenderung mengurangi konsumsi di luar kebutuhan pokok, seperti membatasi makan di restoran, menunda renovasi rumah, atau mengurangi belanja barang sekunder dan tersie

0 Komentar