MUSIBAH arak-arakan odong-odong sisingaan hajatan khitanan yang menewaskan tiga orang di Kampung Cibeureum RT 03 RW 03, Desa Mekarmukti, Kecamatan Cikarang Utara, menyisakan duka dan trauma bagi para kru hiburan yang terlibat. Salah satunya Suharin (65), pemain terompet Grup Alan Dewa Trompet asal Kabupaten Subang.
Pria yang telah puluhan tahun menjadi seniman sisingaan itu mengaku ingin segera pulang setelah sejak Selasa (2/6) sore bersama puluhan kru lainnya yang hingga kini masih berada di Mapolsek Cikarang Utara untuk dimintai keterangan terkait peristiwa tersebut.
“Di rumah anak sama cucu sudah nungguin. Mereka nangis takut saya kenapa-kenapa. Saya mah pengennya pulang saja,” kata Suhari ketika diwawancarai Karawang Bekasi Ekspres di Mapolsek Cikarang Utara, Rabu (3/6).
Baca Juga:Ditahan Imbang Tuan Rumah, Persika Hadapi Laga Hidup Mati Lawan Persipani PaniaiTerekam CCTV, Mahasiswa di Telukjambe Nekat Curi Motor Tetangga Kos
Suharin mengaku tiba di Polsek Cikarang Utara sekitar pukul 18.00 WIB kemarin. Selama berada di sana, dirinya bersama kru lain memenuhi kebutuhan makan secara mandiri. Untuk beristirahat, mereka hanya memanfaatkan area terbuka di lingkungan polsek.
“Semalam makan beli sendiri. Tidurnya ngampar di saung polsek, banyak nyamuk juga,” ujarnya.
Menurut dia, sekitar 80 kru dari berbagai unsur rombongan masih berada di lokasi. Mulai dari pemain musik, pemikul sisingaan hingga kru pendorong sound system. Kondisi tersebut membuat sebagian kru mulai gelisah karena keluarga mereka di rumah semuanya khwatir.
Di tengah situasi itu, Suhari masih mengingat jelas detik-detik sebelum insiden terjadi. Saat itu rombongan tengah mengiringi lagu Buah Ngora dan sinden sedang bernyanyi. Sebagai pemain terompet, ia sempat mundur dari posisi biasanya di dekat mikrofon.
“Saya mundur sedikit. Alhamdulillah selamat. Kalau enggak mundur mungkin saya juga kena setrum,” tuturnya.
Suhari mengaku tidak mengetahui betul adanya kabel-kabel listrik menjuntai yang berada di jalur arak-arakan. Menurutnya, seluruh pemain hanya mengikuti rute yang telah diarahkan panitia di lapangan.
“Kita pemain mah taunya ikut rute. Yang ngatur jalur kan panitia di lapangan. Enggak ada yang kasih tahu juga kalau ada kabel di situ,” katanya.
Baca Juga:BKPSDM Karawang: Tahun 2026 Sebanyak 675 Pegawai Akan Pensiun, Pemda Siapkan Langkah AntisipasiPerforma PAD Tumbuh Positif, Karawang Kejar Target Mandiri Fiskal
Pria yang telah bermain terompet sejak usia 18 tahun itu mengaku baru kali ini mengalami kejadian fatal selama mengikuti hajatan. Selama hampir lima dekade berkecimpung di dunia seni tradisional, berbagai arak-arakan telah dilaluinya tanpa insiden serupa.
