KBEONLINE.ID – Klaim bahwa air mampu “mendengar” doa, merespons kata-kata positif, bahkan membentuk kristal yang indah setelah didoakan sudah lama beredar di masyarakat. Gagasan tersebut kerap muncul dalam seminar motivasi, ceramah keagamaan, hingga konten media sosial sebagai bukti bahwa ucapan manusia dapat mengubah struktur air. Bagi sebagian orang, teori ini terdengar meyakinkan karena dikaitkan dengan nilai-nilai spiritual. Namun, bagaimana jika klaim tersebut ditinjau dari sudut pandang ilmu pengetahuan?
Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia, Prof. Agustino Zulys, membahas persoalan tersebut dalam program edukasi Behind the Science. Dalam pemaparannya, ia mengajak masyarakat membedakan mana yang merupakan temuan ilmiah dan mana yang hanya berupa klaim yang belum memenuhi standar penelitian sains.
Menurutnya, menghargai nilai spiritual merupakan hal yang penting. Namun, ketika sebuah keyakinan berusaha dibuktikan menggunakan teori ilmiah yang tidak valid, justru dapat menimbulkan kesalahpahaman. Karena itu, masyarakat perlu memahami bagaimana sains bekerja agar tidak mudah menerima suatu informasi hanya karena terdengar menarik atau sering diulang.
Baca Juga:Spot Mancing Murah di Karawang Ini Selalu Ramai Hanya Modal Rp30 Ribu Bisa Strike Patin Jumbo Seharian!Punya Rp100 Juta Pertama? Jangan Terburu-buru Merasa Kaya Saatnya Bangun Fondasi Kekayaanmu Dulu
Berawal dari Klaim Masaru Emoto yang Mendunia
Fenomena ini bermula dari karya Masaru Emoto, seorang penulis asal Jepang yang memperkenalkan gagasannya melalui buku The Hidden Messages in Water. Dalam bukunya, Emoto mengklaim bahwa air memiliki kemampuan merespons emosi manusia. Air yang diperdengarkan doa, musik klasik, atau kata-kata positif disebut akan membentuk kristal es yang indah dan simetris ketika dibekukan. Sebaliknya, air yang menerima kata-kata kasar atau energi negatif diklaim menghasilkan kristal yang tidak beraturan dan tampak rusak.
Gagasan tersebut kemudian menyebar luas ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Tidak sedikit seminar motivasi maupun ceramah yang menggunakan foto-foto kristal air karya Emoto sebagai ilustrasi bahwa kata-kata baik dapat mengubah struktur air. Bahkan muncul anggapan bahwa air yang telah didoakan mengalami perubahan secara fisik sehingga memiliki manfaat khusus ketika diminum.
Menurut Prof. Agustino, popularitas teori tersebut memang sangat besar karena mudah dipahami dan menyentuh sisi emosional masyarakat. Namun, popularitas bukanlah ukuran kebenaran ilmiah. Dalam dunia sains, setiap klaim harus dapat diuji, diukur, dan dibuktikan secara konsisten melalui metode penelitian yang ketat.
