KBEONLINE.ID KARAWANG – Kasus kematian massal ikan di saluran irigasi Johar, Kabupaten Karawang, mendapat perhatian serius dari Forum Komunikasi Daerah Aliran Sungai Citarum (Forkadasc+). Bidang Litbang Forkadasc+, Willy Firdaus, mengungkapkan bahwa perubahan debit dan kondisi air secara mendadak menjadi faktor krusial yang harus dicermati dalam peristiwa tersebut.
Menurut Willy, aktivitas buka-tutup pintu air di Bendung Leuweung Seureuh berpotensi memicu fluktuasi suhu, tingkat keasaman (pH), hingga penurunan kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen) yang drastis, sehingga mengancam ekosistem air.
“Pembukaan dan penutupan pintu air memang terjadi pada malam hari. Jika melihat cerita masyarakat, kejadian ikan mati juga terjadi pada malam hari,” kata Willy, Rabu (3/6).
Baca Juga:Inovasi Anak Muda Karawang Ciptakan Kompor Batik Listrik untuk Kegiatan Membatik Pelajar Lebih MudahMentorship 360 Karawang Harus Diperkuat Klaster Hukum untuk Lindungi Pelaku UMKM
Selain faktor debit, perubahan kondisi fisik air juga terlihat jelas dari warnanya yang berubah menjadi keruh dan kecokelatan. Willy menduga hal tersebut dipicu oleh sedimentasi yang terangkat akibat pergolakan arus air.
Situasi ini diperparah oleh jenis ikan yang ditemukan mati, seperti ikan baung, tawes, dan nilam. Spesies-spesies tersebut dikenal memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap perubahan lingkungan perairan yang terjadi secara tiba-tiba.
Kendati aktivitas pintu air diduga kuat menjadi pemicu, Forkadasc+ menegaskan bahwa potensi adanya pencemaran limbah tidak boleh diabaikan begitu saja.
“Kalau memang ada dugaan pencemaran, DLHK dan PDAM harus bergerak cepat. Mau pencemarannya besar ataupun kecil,” tegas Willy.
Willy mengingatkan bahwa saluran irigasi merupakan objek vital yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Kualitas air di kawasan tersebut harus dipastikan aman karena menjadi sumber utama bagi sektor pertanian sekaligus bahan baku air bersih warga.
“Saluran irigasi ini objek vital. Harus dilindungi dari pencemaran karena berkaitan dengan banyak pengguna air, termasuk konsumen PDAM,” lanjutnya.
Ia pun mendesak instansi terkait untuk segera melakukan investigasi menyeluruh atas setiap indikasi penurunan kualitas air guna mencegah dampak yang lebih luas bagi masyarakat.(aufa)
