Zona Tengah Ketika Alam dan Peradaban Bertemu
Memasuki wilayah tengah, karakter Sungai Citarum berubah drastis. Aliran sungai yang semula liar mulai dibendung dan dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan manusia.
Di zona ini berdiri tiga bendungan besar yang menjadi tulang punggung energi dan pengairan Jawa Barat, yakni Waduk Saguling, Waduk Cirata, dan Waduk Jatiluhur.
Meski aktivitas manusia semakin padat, sejumlah satwa liar masih mampu bertahan hidup di kawasan semak, hutan sekunder, dan tebing-tebing yang mengelilingi aliran sungai.
Baca Juga:Rekomendasi Liburan Murah di Jonggol! Kolam Renang Batu Gede Tawarkan Kesegaran Mata Air Alami dan Sawah IndahSentuhan John Herdman Berbuah Manis! Timnas Indonesia Tampil Dominan Hajar Oman 3-0 di Gelora Bung Karno
Salah satunya adalah garangan, mamalia kecil yang dikenal sebagai pemburu ulung tikus dan reptil. Kehadiran satwa ini membantu menjaga keseimbangan ekosistem di sekitar lahan pertanian dan pemukiman.
Di kawasan yang lebih rimbun, masih ditemukan Kucing Kuwuk yang memiliki kemampuan memanjat pohon dan berenang dengan sangat baik. Kucing liar ini memanfaatkan koridor hijau di sepanjang DAS Citarum untuk berburu hewan pengerat dan burung kecil.
Tak kalah menarik, terdapat pula Kukang Jawa yang hidup di pepohonan kawasan tengah. Primata yang terkenal bergerak lambat ini kini menghadapi ancaman serius akibat perburuan dan menyusutnya habitat alami.
Sementara itu, kawasan hutan dan perkebunan di sekitar DAS tengah juga menjadi habitat salah satu ular paling ditakuti di dunia, yaitu King Cobra. Predator ini berperan penting menjaga keseimbangan populasi reptil lain di alam.
Citarum Bukan Sekadar Sungai
Di balik berbagai persoalan lingkungan yang pernah menghantamnya, Citarum sesungguhnya menyimpan kekayaan hayati luar biasa yang jarang diketahui publik.
Dari Situ Cisanti yang sejuk di kaki Gunung Wayang hingga kawasan waduk raksasa di tengah Jawa Barat, sungai ini menjadi rumah bagi satwa-satwa langka yang hanya dapat bertahan jika ekosistemnya tetap terjaga.
Karena itu, menjaga Citarum bukan hanya soal menjaga sumber air bagi jutaan manusia. Lebih dari itu, menjaga Citarum berarti melindungi rumah bagi elang yang terbang di angkasa, macan tutul yang mengendap di rimba, hingga kukang yang perlahan merayap di antara pepohonan malam tanah Pasundan.
